Sejarah Panjang Raja-Raja Solo: Dari Pakubuwono III hingga PB XIII yang Baru Wafat

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Senin, 3 November 2025 | 21:50 WIB
Sejarah Panjang Raja-Raja Solo: Dari Pakubuwono III hingga PB XIII yang Baru Wafat. (Dok. Museum Keraton Kasunanan Surakarta)
Sejarah Panjang Raja-Raja Solo: Dari Pakubuwono III hingga PB XIII yang Baru Wafat. (Dok. Museum Keraton Kasunanan Surakarta)

Raden Mas Ontoseno memimpin di masa sulit, ketika Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang. Dia wafat sebelum kemerdekaan Indonesia pada 1 Juni 1945.

10. Sri Susuhunan Pakubuwono XII (1945–2004)

Raden Mas Suryo Guritno atau PB XII, naik takhta menggantikan ayahnya. Pemerintahannya berlangsung selama 59 tahun dan menjadi masa transisi penting bagi Keraton Surakarta setelah Indonesia merdeka.

Di masa ini, banyak upaya dilakukan untuk mempertahankan eksistensi keraton di tengah perubahan politik nasional.

11. Sri Susuhunan Pakubuwono XIII (2004–2025)

Raja terakhir yang kini telah wafat, PB XIII atau Hangabehi, memimpin selama 21 tahun. Masa pemerintahannya diwarnai dinamika internal keraton, namun dia tetap berupaya menjaga marwah budaya dan tradisi Surakarta.

PB XIII meninggalkan seorang putra mahkota, KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram (KGPH Purbaya), yang kini disebut-sebut sebagai calon penerus takhta. Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai suksesi raja baru.

Baca Juga: Paku Buwono XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Hentikan Suara Gamelan hingga Pemakaman Selesai 

Warisan Sejarah yang Terus Hidup

Meski kekuasaan politik Kasunanan Surakarta sudah tidak lagi memiliki wewenang administratif seperti masa lampau, keberadaan Keraton Surakarta Hadiningrat masih memegang peran penting sebagai penjaga kebudayaan Jawa.

Dari PB III hingga PB XIII, deretan raja Surakarta telah meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan sejarah bangsa, baik melalui politik, sastra, maupun pelestarian tradisi.

Kini, setelah kepergian PB XIII, masyarakat menantikan kelanjutan dinasti Kasunanan Surakarta. Siapa pun penerusnya nanti, diharapkan mampu menjaga nilai-nilai luhur keraton sebagai pusat budaya Jawa dan simbol warisan Mataram.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X