TITIKTEMU.CO-Punya anak bukan keputusan investasi seperti membeli saham, tetapi pertanyaan anak adalah aset atau liabilitas tetap menarik jika dilihat dari kacamata ekonomi personal.
Bukan untuk menghitung nilai seorang anak dalam rupiah, melainkan untuk jujur melihat konsekuensi finansial dari keputusan menjadi orang tua.
Sebab, setelah tangisan bayi mereda dan foto keluarga memenuhi galeri, muncul kenyataan yang jauh lebih sunyi: ada kebutuhan yang harus dibayar bertahun-tahun.
Baca Juga: Kenapa Generasi Sekarang Rela Antre Berjam-jam demi Kopi? Ternyata Bukan Cuma Soal Rasa
Anak adalah Aset atau Liabilitas? Tergantung Cara Melihatnya
Dalam akuntansi, aset adalah sesuatu yang memiliki nilai ekonomi, sedangkan liabilitas merupakan kewajiban yang perlu dipenuhi. Kalau definisi ini ditempel mentah-mentah pada anak, tentu terasa dingin dan tidak manusiawi.
Namun, istilah tersebut bisa dipakai sebagai metafora untuk membaca kondisi keuangan keluarga. Anak membutuhkan makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, pakaian, transportasi, hingga berbagai kebutuhan yang sering muncul tanpa mengetuk pintu.
BPS sendiri secara rutin mencatat pengeluaran rumah tangga untuk berbagai kebutuhan, termasuk pendidikan dan kesehatan. Data Susenas juga menunjukkan bahwa biaya pendidikan merupakan salah satu bagian penting dalam gambaran pengeluaran masyarakat.
Baca Juga: Generasi yang Dibesarkan Buat “Kuat”, Sekarang Membesarkan Anak Buat “Merasa”
Anak Memang “Mahal”, tetapi Bukan Berarti Merugi
Di sinilah pembahasan mulai menarik. Anak jelas membutuhkan biaya, tetapi menyebut mereka sebagai liabilitas secara harfiah juga keliru.
Orang tua tidak membeli “produk” bernama anak. Mereka membesarkan manusia yang suatu hari memiliki pilihan, kemampuan, karakter, dan kehidupannya sendiri.
Karena itu, investasi terbesar orang tua sebenarnya bukan berharap anak kelak membayar semua pengeluaran masa kecilnya. Investasinya adalah menciptakan lingkungan yang membuat anak punya kesempatan tumbuh sehat, berpendidikan, mandiri, dan mampu menentukan masa depannya.
Baca Juga: Kenapa Lulusan Kampus Ternama Belum Tentu Lebih Sukses, Ini Datanya
BPS dalam Profil Anak Usia Dini 2025 menempatkan pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sebagai bagian penting dalam perkembangan anak.
Masalahnya Bukan Punya Anak, tetapi Tidak Menghitung Kemampuan
Yang sering membuat keluarga kewalahan bukan semata-mata jumlah anak. Persoalannya bisa muncul ketika keputusan punya anak tidak diikuti perencanaan keuangan yang realistis.
Misalnya, pendapatan masih sama tetapi gaya hidup meningkat. Cicilan rumah berjalan, kendaraan harus dibayar, kebutuhan harian naik, sementara orang tua juga ingin menyiapkan dana pendidikan.
Artikel Terkait
Strawberry Parenting Versi Indonesia: Bukan Memanjakan, Tapi Cara Baru Mendidik Anak Lebih Kuat
Parenting Tanpa Panggung: Kenapa Orang Tua Kini Stop Posting Anak di Medsos?
Saat Nenek dan Kakek Ikut Mengasuh: Cara Damai Hadapi Beda Parenting Tanpa Ribut
Terjebak Tren Gentle Parenting dan Isme Lainnya? Ini Alasan Label Gaya Asuh Justru Merusak Ibu dan Anak
Tren Wearable Anak 2026: Alat Bantu Pantau Kesehatan Buah Hati atau Sekadar Gengsi Parenting?
Grup WhatsApp Parenting: Sumber Dukungan atau Sumber Stres Baru?
10 Tips Parenting Anak agar Tumbuh Cerdas, Mandiri, dan Percaya Diri, Orang Tua Wajib Tahu