TITIKTEMU.CO - Kepergiann Raja Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono XIII menjadi momen duka bagi masyarakat Solo dan seluruh pecinta budaya Jawa.
Seperti raja-raja sebelumnya, Paku Buwono XXI juga melalui perjalanan panjang seorang raja yang penuh dinamika dan warna.
Mulai dari perebutan takhta, konflik intern, hingga upaya menyatukan kembali Keraton Surakarta yang sempat terbelah membentuk kubu-kubu.
Selama 21 tahun masa kepemimpinannya, PB XIII menjadi sosok sentral yang berperan besar dalam menjaga kelestarian budaya dan martabat Kasunanan Surakarta di era modern.
Baca Juga: Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Awal Kehidupan dan Latar Keluarga
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII lahir di Solo pada 28 Juni 1948 dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Suryadi, putra tertua dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII dan KRAy Pradapaningrum.
Semasa kecil, kesehatannya yang lemah membuat sang nenek, GKR Pakubuwana, mengganti namanya menjadi GRM Suryo Partono, dengan harapan membawa keselamatan dan kesembuhan.
Sebagai putra sulung, GRM Suryo Partono mendapat gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Hangabehi, yang menandai dirinya sebagai calon penerus tahta Keraton Surakarta Hadiningrat.
PB XIII menikah tiga kali. Dari pernikahan-pernikahan itu, dia dikaruniai sejumlah putra dan putri, termasuk KGPH Mangkubumi dan KGPH Puruboyo, yang kelak ditunjuk sebagai putra mahkota.
Jalan Panjang Menuju Takhta
Perjalanan PB XIII menuju tahta Keraton Surakarta tidak berjalan mulus. Setelah wafatnya PB XII pada 11 Juni 2004, muncul konflik besar di dalam tubuh keraton.
Pasalnya, Sang Raja tidak menunjuk penerus resmi sebelum wafat. Di sisi lain, Paku Buwono XII tidak memiliki permaisuri.
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Ken Dedes, Perempuan yang Menurunkan Raja-raja di Jawa?
Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Keris Mpu Gandring, Ken Arok, dan Pertumpahan Darah di Kerajaan Singasari
Gayatri Rajapatni, Perempuan Agung di Balik Kejayaan Majapahit
Jogja Lahir di Karanganyar, Ini Rute, Alamat Lengkap, Harga Tiket dan Keunikan Monumen Perjanjian Giyanti