TITIKTEMU.CO-Satu unggahan bisa mengubah seseorang dari manusia biasa menjadi “tersangka” di pengadilan internet dalam hitungan jam.
Inilah wajah cancel culture: ketika publik menarik dukungan, menyerukan boikot, atau ramai-ramai mengecam seseorang karena ucapan maupun tindakannya yang dianggap bermasalah.
Sekilas, praktik ini terlihat seperti bentuk keadilan sosial. Orang yang salah mendapat konsekuensi, publik bersuara, dan pihak yang selama ini mungkin tidak punya kekuatan akhirnya bisa didengar.
Tetapi masalahnya muncul ketika kecepatan menghukum jauh lebih tinggi daripada kecepatan memeriksa fakta.
Baca Juga: Anak Itu Aset atau Liabilitas? Jawabannya Bisa Membuat Ortu Milenial Terdiam
Cancel Culture Tidak Selalu Sama dengan Akuntabilitas
Kritik terhadap tindakan yang merugikan tentu sah. Bahkan, penelitian mengenai fenomena ini menunjukkan bahwa cancel culture memang sering dipahami sebagai cara masyarakat memberikan tekanan dan konsekuensi melalui ruang digital.
Namun, kritik dan penghakiman massal bukan hal yang identik.
Akuntabilitas seharusnya menjawab pertanyaan: apa yang terjadi, siapa yang dirugikan, dan konsekuensi apa yang proporsional? Sementara dalam budaya cancel, diskusi kadang berubah menjadi perlombaan mencari siapa yang paling cepat mengecam.
Di titik itu, tujuan awalnya bisa bergeser. Bukan lagi memperbaiki masalah, tetapi memastikan seseorang “habis” secara sosial.
Baca Juga: Slow Living Bukan Tren — Ini Kota yang Sudah Lama Menjalaninya
Algoritma Suka Keramaian, Bukan Kebenaran
Ada alasan mengapa konflik di media sosial mudah membesar. Konten yang memancing emosi biasanya lebih menarik perhatian dibanding penjelasan panjang yang penuh konteks.
Satu potongan video berdurasi 15 detik bisa lebih viral daripada klarifikasi 15 menit. Akibatnya, orang sering membentuk kesimpulan sebelum mengetahui cerita lengkap.
Bagi Gen Z yang sangat akrab dengan media sosial, kemampuan membaca konteks menjadi semakin penting. Jangan sampai kepedulian terhadap isu sosial justru membuat kita terbiasa menghakimi berdasarkan satu tangkapan layar.
Baca Juga: Kenapa Anak-anak Nggak Perlu Tinggal di Kota Besar untuk Sukses — Tren 2026 Membuktikan
Ketika “Bersalah” Belum Tentu Berarti Kita Tahu Semuanya
Pew Research Center menemukan masyarakat sendiri terbelah dalam melihat praktik calling out di media sosial. Sebagian melihatnya sebagai bentuk akuntabilitas, sementara sebagian lainnya menilainya sebagai hukuman terhadap orang yang sebenarnya tidak layak dihukum.
Ini menunjukkan persoalannya memang tidak hitam-putih.
Artikel Terkait
Pindah ke Kota Kecil Bukan Kalah — Tren 'Slow Living Migration' yang Diam-Diam Mengubah Peta Urban Indonesia
Slow Living Bukan Tren Bule — Ini Alasan Gen Z Indonesia Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan
Tren Self Expression 2026: Dari Fashion Kenapa Anak Muda Indonesia Rela Potong Anggaran Makan demi Tetap Tampil Kece di Medsos?
Tren Plant-Based di Indonesia: Antara Gaya Hidup Tulus dan Flexing Doang
Kenapa Anak-anak Nggak Perlu Tinggal di Kota Besar untuk Sukses — Tren 2026 Membuktikan
Slow Living Bukan Tren — Ini Kota yang Sudah Lama Menjalaninya