Di angkringan, semua orang sama derajatnya. Mau tukang becak, tukang ojek, mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai bank, dokter, tentara, polisi, hakim, jaksa, budayawan, ulama, tokoh masyarakat, atau siapa pun tidak ada yang diistimewakan. Hak dan kewajibannya sama; seperti one man one vote, dalam pemilu.
Suasana seperti itulah yang membuat orang rindu nongkrong di angkringan. Seperti di kafe-kafe di kota-kota Timur Tengah. Kata sejarawan Mark Pendergrast, revolusi Perancis (1789) dan Amerika direncanakan di kafe. Tetapi, di sini tak perlu meniru mereka. Dulu ceritanya, di kafe di Paris tokoh-tokoh seperti Marat, Robespierre, Danton, Hébert, Napoleon, dan Desmoulins ngobrol. Di kafe-lah muncul pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan brilian.
Di angkringan orang bisa bebas ngobrol sambil makan makanan rakyat. Bisa milih: ada tempe goreng, tahu goreng, mendoan, bahwan, pisang goreng, ketela goreng, dan tahu isi.
Ada juga sego kucing, sego bandeng, indomi rebus, sate kere, sate telur puyuh, sate keong, sate jeroan, juga kerupuk dan karak. Mau minum? Ada teh nasgitel (panas legi dan kentel), teh pahit, kopi biasa, kopi joss, kopi susu, wedang jahe, susu jahe, wedang uwuh, tinggal pilih. Semua murah, harganya berkisar antara Rp 500 sampai Rp 5.000.
Baca Juga: Angkringan Widoro Klaten: Awalnya Lahan Mangkrak, Sekarang Jadi Tempat Kuliner Kekinian
Suasana sangat khas. Bisa dikatakan suasana di angkringan tak tergantikan oleh kafe-kafe yang mahal, yang berpendingin udara. Maka orang selalu rindu untuk datang kembali “ngangkring” walau sekadar untuk minum teh atau kopi atau jahe, seharga Rp 5.000.
Tidak berlebihan kalau dikatakan angkringan tidak hanya sekadar tempat mengisi perut secara murah. Tetapi, angkringan adalah tempat sosialisasi antar-warga. Angkringan adalah simbol egaliter antar-warga masyarakat, antar-manusia.
Filosofi angkringan itu sangat penting di zaman sekarang ini yang serba terkotak-kotak baik secara suku, ras, agama, bahkan politik. Pengkotak-kotakan ini yang menimbulkan konflik dan perpecahan. Dan edannya lagi, ada yang “sengaja” mengkotak-kotakkan.
Baca Juga: Simak Ini Perbedaan Endemi, Epidemi, dan Pandemi
Kita masih ingat bagaimana masyarakat Jakarta terpecah pada Pilkada 2017. Kepentingan politik dan nafsu akan kekuasaan yang menjadi penyebabnya. Hal yang sama—bahkan lebih dahsyat—terjadi saat Pemilu 2019.
Bukan mustahil, pada Pemilu 2024 hal yang sama akan berulang. Selama politik hanya diartikan sebagai cara untuk merebut kekuasaan bukan mengabdi pada bangsa dan negara untuk mewujudkan sebuah bonum commune, kemaslahatan bersama, maka menghalalkan segala cara akan dilakukan. Termasuk mengkotak-kotak dan memecah belah bangsa. Tanda-tanda ke arah itu sudah terlihat.
Semestinya, seperti di angkringan, kita semua harus menerima keanekaragaman dan memunculkan sikap toleransi terhadap perbedaan-perbedaan apa pun yang ada di negeri ini.
Baca Juga: Penyakit Ginjal Penyebab Kematian Terbanyak Ke-10: Yuk, Kenali Ciri dan Cara Pencegahannya!
Tetapi, sekarang ini selalu ada yang sengaja menonjol-menonjolkan, meneriak-neriakan perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat, bukan kesamaannya. Yang berbeda dianggap musuh dan harus dimusuhi. Mereka selalu “ber-kami” bukan “ber-kita.”
Artikel Terkait
"ANTARA ANKARA DAN PENAJAM" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA." Oleh: Hamid Basyaib
Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong
POSTINGAN MAS MAR… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku
TONGSENG LIDAH oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERITA TANAH AIR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku