PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Vatikan
TITIKTEMU.CO - Keputusan memilih nama Leo XIV, mengejutkan banyak kardinal-elektor. Mengapa Kardinal Robert Francis Prevost memilih nama Leo, bukan Yohanes atau Fransiskus seperti permintaan para kardinal saat General Congregation?
Kardinal Suharyo, dalam perbincangan di Biara Internasional Carmelitana, Roma, mengatakan bahwa is pun bertanya-tanya seperti kardinal lainnya. Kami saling bertanya: Mengapa memilih nama Leo? Sesaat kemudian, Kardinal Suharyo, paham tentang pilihan nama itu. Apalagi, setelah paus terpilih menjelaskan mengapa memilih nama Leo. Dan, semua kardinal mendukungnya.
Baca Juga: PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (1): WHITE SMOKE, BLACK POPE
Paus kelahiran AS dan lama menjadi misionaris di Peru ini, lebih 20 tahun, menjelaskan pilihan namanya mengacu pada Paus Leo XIII yang "menjawab akibat sosial yang timbul karena revolusi industri besar pertama" dengan ensikliknya Rerum Novarum.
Kata Kardinal Suharyo, "Pilihan itu tepat dengan situasi zaman sekarang. Di zaman relativisme ini. Zaman post, post..." Paus Fransiskus pernah mengatakan, kita hidup di masa "relativisme merajalela yang merusak fondasi iman dan melucuti makna sejati dari gagasan kesetiaan Kristen."
Sebelumnya, Paus Benediktus bahkan menyebut, "kediktatoran relativisme" yang menjadi penyebab awal runtuhnya Gereja di Eropa.
Baca Juga: PAUS LEO XIV: PERTPAUS LEO XIV : PERTANDA ZAMAN (2): BUKAN TEOLOG, BUKAN DIPLOMAT
Dalam bahasa lain, Magister Magnus (Pemimpin Tertinggi) the Equestrian Order of the Holy Sepulchre atau Ordo Makam Kudus atau Ksatria Makam Kudus (OESSH) Kardinal Fernando Filoni mengatakan, pilihan nama (Leo XIV) merefleksikan intensinya memimpin Gereja Katolik dengan "visi yang jelas" di tengah dunia yang penuh gejolak (EWTN News, 9/5).
Mengapa dikatakan tepat? Di tengah dunia yang tengah bergejolak ini, seperti bahtera di tengah ombak dan badai, dibutuhkan seorang nahkoda yang kuat dan bervisi jelas dalam membawa bahtera; dibutuhkan seorang gembala yang menunjukkan jalan yang harus dilalui, jalan kebenaran.
Baca Juga: Tidak Main Main, UGM Siap Cetak Talenta AI
Dahulu, kata Kardinal Suharyo, Paus Leo XIII (bertakhta, 1810 – 1903) juga Leo Agung (sekitar tahun 400-461) atau Leo I dikenang karena kepemimpinannya yang kuat, jangkauannya ke dunia (diplomasi) yang luas, dan upayanya yang luar biasa dalam menciptakan perdamaian.
Visi Paus Leo XIV (sebagian) terungkap dari kalimat pertama ketika tampil di balkon Basilika Santo Petrus, hari Kamis (8/5) petang. la mengatakan "La pace sia con tutti vor, Semoga damai menyertaimu. Tetapi, "damai" di sini tidak hanya damai karena tidak ada perang. Tidak demikian.
Dulu zaman Romawi ada rumusan yang berbunyi, "Si vis pacem, para helium", jika ingin damai, bersiaplah berperang. Sekarang pun, masih demikian. Akibatnya, negara-negara berlomba-lomba menumpuk senjata, terjadi pacuan senjata dan perdamaian tidak tercipta.
Artikel Terkait
Dari Kapel Sistina ke Takhta Suci: Mengungkap Proses Pemilihan Paus dalam Tradisi Konklaf
Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat, Pemimpin Umat Katolik Dunia Yang Baru dengan Nama Paus Leo XIV
Konklaf Tercepat Sepanjang Sejarah: Paus Terpilih Hanya dalam 33 Jam
Profil Paus Leo XIV: Paus Pertama dari Amerika Serikat yang Memimpin Gereja Katolik
Diwakili oleh Mensesneg Presiden Prabowo Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Paus Leo XIV: Momen Penting Bagi Perdamaian Dunia