Siapa Sebenarnya yang Bicara di Layar Kita? Kuasa Tersembunyi di Balik Berita dan Hiburan

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Kamis, 7 Agustus 2025 | 14:14 WIB
Henry Sianipar, Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Usahid Jakarta, Dosen Ilmu Komunikasi UBSI Jakarta, Praktisi Penyiaran (Istimewa)
Henry Sianipar, Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Usahid Jakarta, Dosen Ilmu Komunikasi UBSI Jakarta, Praktisi Penyiaran (Istimewa)

Siapa Sebenarnya yang Bicara di Layar Kita?
Kuasa Tersembunyi di Balik Berita dan Hiburan

Oleh: Henry Sianipar, Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Usahid Jakarta, Dosen Ilmu Komunikasi UBSI Jakarta, Praktisi Penyiaran

TITIKTEMU.CO - Pernahkah Anda berpikir, mengapa berita yang muncul di layar ponsel atau TV selalu membahas hal yang hampir sama? Mengapa satu tokoh politik tiba-tiba sering muncul di berbagai platform, sementara isu penting lain seperti nasib petani atau nasib buruh jarang disentuh? Atau mengapa infotainment dan gosip artis selalu mendominasi, sementara jurnalisme investigatif terasa semakin langka?

Jawabannya bukan kebetulan. Di balik layar, ada kekuatan besar yang mengatur apa yang kita lihat, dengar, dan baca, yaitu: kepemilikan media.

Baca Juga: Fenomena Rojali dan Rohana Menurut Psikolog: Antara Kebutuhan Sosial, Gengsi, dan Tren Media Sosial

Anatomi Oligopoli Media Indonesia

Data menunjukkan fakta mengejutkan: 90% media nasional dikuasai hanya 13 keluarga. Konsentrasi ekstrem ini menciptakan oligopoli informasi yang mengancam pluralisme. Ketika tangan kiri Anda memegang remote tv, maka layar kaca Anda melihat RCTI, MNCTV, GTV, dan Inews TV. Di tangan kanan Anda mungkin memegang HP, maka berita-berita juga akan tersaji di laman Okezone.com, Sindonews.com, iNews.id hingga Celebrities.id. Kesemuanya tergabung dalam atap yang sama MNC Grup. Pun dengan grup EMTEK. SCTV, Liputan6.com, dan Indosiar berada dalam satu kendali. Konsumen mengira memiliki pilihan padahal hanya mendapat varian dari narasi yang sama.

Struktur ini bukan anomali, tetapi desain sistematis. Pemilik media ini juga menguasai sektor strategis: perbankan, properti, tambang, bahkan politik. Integrasi vertikal dan horizontal ini menciptakan kekuatan yang sulit ditandingi.

Baca Juga: Kapan iPhone 17 Dirilis? Ini Bocoran Terbaru Tanggal Peluncuran dan Produk Apple Lainnya

Kritik Ekonomi Politik Media

Noam Chomsky dan Edward Herman dalam "Manufacturing Consent" mengargumentasikan bahwa media kapitalis inheren bias karena bergantung pada iklan dan akses ke elit. Tesis ini terbukti relevan di Indonesia: media berfungsi sebagai instrumen hegemoni, membentuk kesadaran publik sesuai kepentingan pemilik modal.

Mekanisme kontrol tidak selalu eksplisit. Lebih sering melalui: agenda setting (menentukan isu yang diangkat), framing (cara penyajian), dan gatekeeping (seleksi informasi). Hasilnya: jurnalisme investigasi termarginalisasi, digantikan infotainment yang mengalihkan perhatian dari isu substantif.

Baca Juga: KPAI Soroti Kekhawatiran Orangtua atas Konten Tak Pantas di Roblox yang Diakses Anak

Teori ini termanifestasi secara konkret melalui beberapa cara. Pertama, mekanisme filtrasi halus, dengan membuat alokasi anggaran tidak seimbang. Anggaran untuk berita hiburan lebih besar daripada anggaran berita investigasi, yang melemahkan fungsi checks and balances. Kedua, Underreporting strategis: Isu lingkungan terkait tambang atau korupsi sekutu politik sengaja diabaikan, sementara figur pro-pemilik dipromosikan sebagai "pahlawan nasional". Ketiga, kriminalisasi jurnalis kritis dengan melakukan pembiaran sistematis terhadap intimidasi pekerja pers.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X