ANGKRINGAN PAK WONGSO Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 20 Maret 2022 | 08:03 WIB
Menu di Angkringan. Ilustrasi (Instagram @iboengky)
Menu di Angkringan. Ilustrasi (Instagram @iboengky)

ANGKRINGAN PAK WONGSO
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

 



Malam kemarin, saya kirim WA ke Mayong, sahabat sejak puluhan tahun lalu. Sebenarnya, kakaknyalah yang teman SMP saya di SMP Pangudi Luhur, Yogya.

“Den, sampeyan masih ingat enggak nama penjual angkringan di perempatan Wirobrajan,” tulis saya di WA. Saya selalu panggil dia Den, nggak tahu kenapa. Dia panggil saya Kang.

“Pak Wongso,” jawabnya singkat. Lalu dilanjutkan, “Cothote enak, werno abang. Nek ngejogi wedang karo turu, sok luput seka gelase.”

Baca Juga: All England 2022: All Indonesian Final Ganda Putra, Satu Gelar Pasti di Tangan!

Betul, sambil nungguin dagangannya, mata Pak Wongso selalu terpejam, terkantuk-kantuk apalagi kalau malam. Maka, ketika ada pelanggan yang minta nambah teh, dengan mata tetap tertutup, Pak Wongso ngangkat teko blirik yang bagian dalamnya sudah coklat kehitaman lalu menuangkan ke gelas. Dan, kerap kali meleset…air tidak masuk gelas.

“Eeeee, Pak meleset…,” teriak pelanggan lalu tertawa, pelanggan lain pun ikut tertawa. Pak Wongso masih dengan mata terpejam menjawab pelan seperti bergumam, “Enggih, to….”

Dia tidak melihat sama sekali pelanggannya ngambil dan makan apa, berapa. Dia percaya saja pada kejujuran para pelanggannya. Walau ada yang makan tiga tempe goreng, ngaku makan dua. Tetapi, pada umumnya, para pelanggannya juga jujur.

Baca Juga: Balapan Formula 1: Delapan Hal Baru dalam F1 2022 yang Perlu Kamu Tahu. Cekidot...

Kejujuran itulah yang menjadi modal utama Pak Wongso dalam bisnis angkringan. Kejujuran merupakan cerminan karakter. Karakter Pak Wongso, yang ketika itu, awal tahun 70’an, berusia 60 tahunan. Kejujuran Pak Wongso mempengaruhi para pelanggannya. Para pelanggan malu diri kalau berbohong, kalau “nggabrul”, makan tiga tempe goreng tapi hanya ngaku dua, misalnya.

Topeng-topeng di Sewu Rai, Wonogiri. Ilustrasi
Topeng-topeng di Sewu Rai, Wonogiri. Ilustrasi (Dwi Soewanto)

II

Kata orang bijak “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” Maka ada musang berbulu domba.

Tetapi, mengapa sekarang ada yang mengatakan bahkan percaya bahwa orang jujur akan hancur. Apalagi, dalam pekerjaan sekarang ini banyak karyawan yang mengorbankan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya karena tuntutan ekonomi. Katanya.

Baca Juga: SNMPTN : Unair Terima 50 Mahasiswa Baru dari Jalur Golden Ticket 2022. Ini Daftar Lengkap Peraihnya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X