Mereka itu lupa atau sengaja melupakan bahwa bangsa ini majemuk sejak semula. Itu suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, tidak dapat dihilangkan. Kalau dipungkiri dan dihilangkan, hilang pula negeri yang namanya Indonesia.
Karena itu, semoga tidak ada yang ingin menghilangkan Indonesia yang majemuk, yang plural, yang multikultural, yang bhinneka, yang menghormati kesetaraan, yang mengutamakan persatuan dan persaudaraan, yang saling toleran, dan saling menghormati, dan yang bersatu.
Baca Juga: Undian Perempat Final Liga Europa: West Ham Vs Lyon, Einfracht Frankfurt Vs Barcelona
Maka, sekali-kali, nongkronglah di angkringan Pak Wongso atau penerusnya atau angkringan manapun—yang di Solo dikenal dengan nama HIK yakni hidangan istimewa kampung—milik siapapun untuk merasakan keindonesiaan kita, kemajemukan, keegaliteran bangsa ini.
Semoga masih ada.***
Sumber: https://triaskun.id/2022/03/19/angkringan-pak-wongso/
Artikel Terkait
"ANTARA ANKARA DAN PENAJAM" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA." Oleh: Hamid Basyaib
Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong
POSTINGAN MAS MAR… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku
TONGSENG LIDAH oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERITA TANAH AIR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku