Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia
Oleh: Ibrahim Ambong
Pada tanggal 9 Februari 2022 Prof. Yahya Muhaimin telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Kita kehilangan seorang yang dikenal sebagai tokoh intektual, pendidik, dan menteri. Sekalipun demikian orang mengenal pula dia sebagai orang yang bersahaja. Untuk itu Yahya Muhaimin patut dikenang.
Yahya Muhaimin memulai kariernya sebagai dosen Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada pada tahun 1972.
Baca Juga: Mantan Mendiknas Prof. Yahya Muhaimin Meninggal Dunia di Purwokerto.
Dia segenerasi dengan Amien Rais dan Ichlasul Amal. Ketiganya dikenal sebagai dosen muda di kampus yang sama pada era 1970-an.
Perkenalan saya dengan pak Yahya terjadi ketika dia mengajarkan Ilmu Perbandingan Sistem Politik pada tahun 1973.
Suatu mata kuliah yang sangat menarik yang menimbulkan gairah untuk berdiskusi lebih dalam. Entah apa penilaiannya terhadap saya akhirnya ia mengajak saya membantunya sebagai asisten dosen.
Baca Juga: Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA. Oleh: Hamid Basyaib
Menyadari bahwa gaji seorang asisten dosen itu kecil, dia lalu menawarkan akan membantu dengan memberikan sebagian gajinya. Di samping itu untuk mendorong lebih jauh, dia menekankan bahwa profesi dosen mempunyai tempat tersendiri di mata masyarakat.
Selama mendampingi pak Yahya, kami banyak berdiskusi. Kadangkala sehabis kuliah kami menyempatkan ke toko buku atau makan nasi pecel di sudut Fakultas Pertanian. Di kemudian hari saya memutuskan ke Jakarta untuk memulai karier.
Yang menjadi fenomenal dan menginspirasi banyak orang adalah skripsinya untuk mencapai gelar sarjana. Pada tahun 1970 ia berhasil mencapai sarjana dengan mengupas peranan militer dalam politik di Indonesia.
Baca Juga: POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Biasanya mahasiswa Jurusan Hubungan Intenasional nembahas politik internasional. Tapi mungkin kemampuannya meyakinkan dosen pembimbingnya bahwa topik itu masih dalam ruang lingkup politik dan belum ada orang Indonesia yang menulisnya, maka dia mendapat 'lampu hijau'.
Artikel Terkait
Simak 5 Istilah Umum dalam Layanan Perbankan Syariah
Sejarah TVRI dari Masa ke Masa, 8 Kali Ganti Logo Hingga Sekarang
Tak Perlu Antri di Samsat, Kini Bayar Pajak Kendaraan Bermotor bisa Di Indomaret
INFO LOKER: Lowongan di BPOM, Penugasan di Jabodetabek, Ditunggu Hingga 18 Februari 2022
Rumah di Gaza Hancur Tak Padamkan Semangat Mohammad untuk Kuliah di Universitas Lampung
Bendungan Bener Diklaim Jadi Pengendali Banjir & Penuhi Kebutuhan Air Purworejo Hingga Bandara YIA Yogyakarta