TONGSENG LIDAH
Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Suatu hari, saya bertanya pada seorang sahabat dari Solo, Frans Sartono. Dia seorang wartawan budaya yang hebat, terutama musik. Kalau soal permusikan, saya selalu bertanya padanya. Tapi, kali ini saya bertanya soal makanan.
“Pakde,” begitu kami biasa saling menyapa, “mengapa warung sate Solo kok board-nya kebanyakan bertuliskan ‘Sate Solo Pak Min?’ Apa di Solo yang terkenal paling enak satenya Pak Min? Top banget, ya Pakde, di mana-mana ada ‘Sate Solo Pak Min.’ Apakah franchise, ya?”
“Apa Pakde mau franchise atau mau nraktir saya?” Dia balik bertanya. Kami berdua tertawa. “Ayo…” kata saya.
Baca Juga: Ini Dia, 7 Warung Sate Kambing di Wonogiri yang Rasanya Bikin Meleleh
Kami pun lalu ngobrol soal sate; dunia persatean. Ada macam-macam jenis sate: sate madura, sate tegal, sate klathak, sate buntel, sate padang, sate maranggi, sate ambal, sate lilit, sate ponorogo, sate lalat, sate taichan, sate makassar, sate banyar, sate bandeng, sate blora, dan sate kere. Mungkin masih ada lagi sate yang lain.
“Mengapa ya kok namanya sate kere, Pakde?” tanya saya. Saya yakin, Pakde Frans tidak menduga bahwa saya akan menanyakan soal sate kere.
“Kalau dalam cerita silat To Liong To (Golok Pembunuh Naga) ada Partai Kay Pang (Partai Pengemis). Beda ya pengemis dan kere, Pakde?, tanya saya pada Pakde Frans.
Baca Juga: 7 Kuliner Ekstrim di Jateng dan Yogyakarta, dari Sate Landak Sampai Rica-rica Bulus
“Benten mbokmenawi, Pakde, Tapi, pengemis juga sering disebut kere,” jawabnya, sambil tertawa. Mungkin berbeda.
Lalu saya cerita, bahwa sebenarnya, saya lebih suka tongseng dibanding sate. Tetapi, itu dulu. Sekarang sih sudah nggak pernah makan lagi. Entah tahun berapa, saya terakhir makan tongseng.
Saya suka tongseng lidah. Menurut saya, sangat enak. Tapi, mungkin orang lain akan mengatakan tongseng buntut lebih enak. Yang lain mengatakan tongseng kepala; yang lain lagi suka tongseng daging. Ada juga yang sangat demen tongseng jerohan.
Baca Juga: Angkringan Widoro Klaten: Awalnya Lahan Mangkrak, Sekarang Jadi Tempat Kuliner Kekinian
Boleh-boleh saja berbeda. Bukankah soal selera ada pepatah yang berbunyi De gustibus non est disputandum, soal selera tidak bisa diperdebatkan. Ya, nggak papa, berbeda-beda.
Artikel Terkait
Jokowi: Bangun Budaya Demokrasi Yang Baik
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
KURANG SAJEN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong
AKU DULU PINGIN JADI DALANG… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku