"Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji"
Opini: Agus Sulistriyono - CEO Promedia Group
Ada satu kenyataan yang mungkin tidak nyaman untuk dibicarakan di kalangan pers: idealisme itu penting, tetapi idealisme saja tidak cukup untuk membayar gaji. Kalimat ini mungkin terdengar pragmatis. Bahkan bisa dianggap terlalu bisnis. Tetapi justru karena saya percaya pada jurnalisme, persoalan ini harus dibicarakan secara terbuka.
Wartawan harus digaji. Editor harus digaji. Kantor, teknologi, server, liputan, perjalanan, semuanya membutuhkan biaya. Pers membutuhkan idealisme untuk tetap dipercaya. Tetapi perusahaan pers membutuhkan bisnis untuk tetap hidup.
Baca Juga: Bukan Sekadar Uang Masuk Kampus, Ini Alasan KPK Jerat Rektor Unsoed dengan 2 Pasal
Persoalan saat ini, lanskap bisnis media berubah begitu cepat. Dulu, ketika orang membutuhkan informasi, media menjadi tujuan utama. Ketika perusahaan ingin menjangkau publik, media menjadi salah satu pintu utama. Audiens ada di media, maka iklan pun datang ke media.
Hari ini, situasinya berbeda. Perhatian publik sudah tersebar ke mana-mana. Ada TikTok, Instagram, YouTube, podcast, influencer, KOL, content creator, streamer, akun komunitas, dan entah apa lagi yang akan lahir setelah ini.
Semuanya memperebutkan satu komoditas yang sama: perhatian manusia (attention). Dan ke mana perhatian pergi, uang biasanya mengikuti. Anggaran komunikasi perusahaan yang dulu banyak mengalir ke media kini harus berbagi dengan influencer, KOL, creator, digital agency, platform social media, marketplace hingga live commerce.
Baca Juga: UI Buka 200 Formasi PTT 2026, Pendaftaran Tinggal Beberapa Hari! Cek Syaratnya
Kue ekonominya tidak hilang. Kuenya berpindah meja. Ironisnya, ketika ekosistem media semakin besar, banyak perusahaan pers justru semakin kecil. Redaksi yang dahulu berisi ratusan orang menyusut jadi puluhan orang. Bahkan semakin banyak media yang bertahan hanya dengan tiga sampai lima orang.
Bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan idealisme. Sering kali persoalannya sederhana: pendapatannya tidak lagi sanggup menopang struktur biaya lama. Di sinilah menurut saya kita perlu membedakan antara media dan perusahaan pers. Media sebenarnya tidak sedang mati. Justru sebaliknya, media sedang meledak.
Hari ini hampir setiap orang bisa menjadi media. Satu orang dengan smartphone dapat memproduksi informasi, membangun audiens jutaan orang, memengaruhi keputusan publik, bahkan menghasilkan pendapatan yang mungkin lebih besar daripada sebuah perusahaan pers dengan belasan karyawan.
Baca Juga: 25 Ucapan Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW 2026, Penuh Makna dan Menyentuh Hati
Kita boleh menyebut mereka influencer, KOL, YouTuber, TikToker, podcaster atau content creator. Tetapi secara fungsi, mereka melakukan sebagian pekerjaan yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan media: memproduksi pesan, mendistribusikannya, membangun audiens dan memengaruhi publik.
Artikel Terkait
Dewan Pers Dorong Penguatan Perlindungan Hukum Karya Jurnalistik di RUU Hak Cipta
Dewan Pers Tegas Sikapi Perjanjian Resiprokal Perdagangan Indonesia – AS yang Berdampak Pada Industri Pers Nasional
Dewan Pers Kecam Penangkapan Tiga Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel di Perairan Internasional
Dewan Pers Kecam Ucapan Hotman Paris Dinilai Rendahkan Wartawan, Kerja Jurnalistik Dilindungi Undang-undang
Detox Media Sosial Itu Percuma Kalau Kamu Tidak Ubah Kebiasaan Ini
CEO Promedia Grup Agus Sulistriyono: Media Harus Bangun Ekosistem Digital, Website Tak Lagi Jadi Andalan Utama
15 Link Twibbon Maulid Nabi 1448 H/2026 M Terbaru, Gratis dan Cocok untuk Foto Profil Media Sosial