Orang yang waras akan mengatakan, ”Ah, itu alasan yang dicari-cari. Tidak jujur, ya tidak jujur. Itu karakter, bawaan orok.”
Itulah sebabnya, orang mengatakan bahwa saat ini susah mencari orang jujur. Ditangkapnya begitu banyak orang karena korupsi, menjadi buktinya. Korupsi adalah wujud tindakan tidak jujur, meski ada yang bangga bisa korupsi. Dunia ini—eh atau masyarakat kita—memang aneh: wong korupsi kok bangga.
Pada hakikatnya, sikap jujur adalah sikap yang apa adanya, tanpa adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Nah, ini yang juga sulit: bersikap apa adanya; bukan pulasan.
Baca Juga: Fabio Quartararo Raih Pole Position, Marc Marquez Terjatuh
Bersikap apa adanya itu sulit—bahkan sangat sulit—apalagi di dunia politik sekarang ini. Sebab, politik itu soal citra. Rakyat melihat apa adanya, tetapi tidak melihat kebenarannya. Itulah yang terjadi dalam politik citra, politik gincu.
Strategi pencitraan dilakukan melalui banyak cara antara lain iklan politik, baliho, poster, spanduk, dan juga blusukan banyak kita saksikan. Bila sukses membangun pencitraan akan mendongkrak keuntungan politik.
Citra politik yang terbentuk di benak publik, tidak selamanya sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Sebab, mungkin citra itu hanya sama dengan realitas media atau realitas buatan media, yang disebut juga sebagai realitas tangan kedua (second hand reality).
Baca Juga: Definisi Gratifikasi & Siapa Saja Penyelenggara Negara yang Wajib Laporan
Dalam politik citra, tentu tidak ada kejujuran. Semua pulasan. Kejujuran itu telah digadaikan untuk kepentingan politik; politik kekuasaan.
III
Padahal, kejujuran itu pula yang membuat suasana di angkringan terasa hangat. Karena di sana, semua orang terbuka. Mereka ngobrol apa adanya, ngalor-ngidul, membicarakan apa pun mulai dari yang ringan-ringan, soal minyak goreng, soal cari kerja atau cari kontrakan, soal kaum seleb yang kawin cerai, pamer jumlah tabungan hingga soal politik, termasuk ngomongin para pejabat, soal penyatuan tanah dan air dari seluruh propinsi termasuk reaksinya yang macam-macam dan lebih berbau politik serta tak paham tradisi dan budaya.
Baca Juga: Formula 1: Ini Dia Desain dan Tampilan Mobil Balap Terbaru Peserta F1 Musim 2022
Tak bisa dielakkan, kadang ngobrol yang agak-agak saru, porno, plesetan, gojek kere (istilah di Yogya mungkin juga di Solo, yakni gojek, guyon yang nggak mutu), dan tertawa lepas. Tertawa itu menyehatkan, menaikkan imun. Begitu kredonya sekarang ini.
Yang menyenangkan, tidak ada yang tersinggung dengan gojekan atau omongan orang lain. Semua ditanggapi dengan tertawa. Untuk tidak tersinggung dibutuhkan kerendahan hati, rendah hati, tawadhu’.
Artikel Terkait
"ANTARA ANKARA DAN PENAJAM" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA." Oleh: Hamid Basyaib
Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong
POSTINGAN MAS MAR… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku
TONGSENG LIDAH oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERITA TANAH AIR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku