Soekarno, menurut Kartodirdjo (1984: 98) adalah Ratu Adil atau mesias dalam konteks Indonesia. Peranan heroiknya dalam mengusir penjajah kolonial Belanda merupakan pencapaian luar biasa dalam proses dekolonisasi yang dikerjakan sejak awal abad ke-20.
III
Sampai di sini, saya ingin menyebut dua tokoh yang menjadi judul tulisan ini: Buya Syafii Maarif dan Abdillah Toha.
Orang bisa dan malahan boleh berbeda pendapat tentang kedua tokoh itu. Sekali lagi, inilah indahnya demokrasi; kita bersama dalam kemajemukan tentang banyak hal, tetapi untuk kebaikan. Dalam demokrasi kita merayakan perbedaan.
Baca Juga: Jelang Libur Nataru, Begini Cara Sultan HB X Mencegah Penularan Covid-19 di Jogja
Bagi saya, Buya Syafii Maarif adalah mata-air keteladanan dalam banyak hal, baik kejujuran, kesederhanaan, sikap hidup, tindakan nyata dan berbagai hal kebaikan lainnya.
Demikian juga Abdillah Toha, yang selalu mengatakan apa adanya sekalipun terhadap orang yang didukungnya, tanpa “topeng” kepalsuan dengan aksi sekadar sensasi, seperti yang banyak dilakukan oleh mereka yang menokohkan diri, yang suka menebarkan pesona demi gengsi dan demi kuasa.
Baca Juga: Ini Lima Perkembangan Terbaru Covid-19 Varian Omicron, Simak Ya!
Ketokohan seseorang sekurang-kurangnya, dapat dilihat dari tiga indikator.
Pertama, integritas tokoh tersebut.
Kedua, karya-karya monumental. Karya-karya tersebut bisa berupa karya tulis, karya nyata dalam bentuk fisik maupun non fisik yang bermanfaat bagi masyarakat, baik sezamannya, ataupun masa sesudahnya.
Ketiga, kontribusi atau pengaruhnya terlihat atau dirasakan secara nyata oleh masyarakat, baik dalam bentuk pikiran, maupun tindakannya, hingga ketokohannya diakui, diidolakan, diteladani, dan dianggap memberikan inspirasi banyak orang.
Kini, negeri ini membutuhkan lebih banyak tokoh yang sekurang-kurangnya memenuhi tiga hal tersebut di atas; tokoh yang moderat, tidak terlalu ekstrem dalam berpikir, akan tetapi tetap dengan landasan berpikir yang kuat; yang luwes, supel dan terbuka serta bisa berkomunikasi dengan orang banyak.
Tentu, tokoh yang berakal budi.
Artikel Terkait
HIKAYAT CELENG Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi
KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku