Bangsa yang amat mudah tersinggung dan tidak tahu humor sehat, yang menomorsatukan gengsi sebagai nilai hidup …yang adigang, adigung, adiguna (mempongahkan kekuasaan, keluhuran, dan kemampuan diri), juga sangat sulit berdemokrasi.
Dalam konteks demokrasi pula, dua tokoh besar itu muncul. Tentang kedua tokoh besar ini, tentu, bukan hanya saya saja yang mengenalnya.
Banyak orang di negeri ini yang mengenalnya. Bahkan, kenal lebih dekat dan sangat dekat dibanding saya. Saya hanya masuk dalam katagori, “sudah senang sekali kalau kiriman WA saya, dijawab.”
Sangat wajar, kalau banyak orang dari pelbagai kalangan—politisi, usahawan, ulama, rakyat biasa (tua maupun muda; lelaki maupun perempuan; orang kota maupun orang desa), kaum terdidik maupun yang kurang terdidik, dan masih banyak lagi—mengenalnya, meskipun banyak di antara mereka belum pernah bertemu. Banyak kalangan yang pingin dan sudah sowan kepada mereka, terutama kalangan politisi.
Sangatlah bijaksana dan pantas sowan kepada kedua tokoh ini, bila ingin menjadi politisi yang berhati-nurani, yang berakal budi.
Tentu kedua tokoh ini sangat berbeda, berbeda jauh sekali, bahkan sangat tidak dapat disamakan dengan “tokoh” (sesepuh) yang tidak perlu dan tidak pantas disowani, yang menurut Presiden Jokowi sering membuat keributan.
“Jangan menggadaikan kewibawaan dengan sowan kepada pelanggar hukum,” kata Jokowi kepada para polisi.
Baca Juga: Liga Champions Eropa, Lionel Messi Optimis PSG Juara, Meski Dihadang Real Madrid di Babak 16 Besar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), kata “tokoh” diartikan sebagai orang yang terkemuka/terkenal, panutan (dalam hal-hal yang baik, tentunya).
Misalnya, yang disebut sebagai tokoh agama adalah seseorang yang berilmu terutamanya dalam hal perkaitan dalam agama.
Ia wajar dijadikan sebagai role-model dan tempat rujukan ilmu bagi orang lain. Karena apa yang dikatakan dan dilakukan benar-benar mencerminkan sebagai mahkluk yang berakal budi.
Jelas, bahwa tokoh semacam itu tidak masuk dalam kategori peribahasa esuk dele sore tempe, mencla-mencle, tidak konsisten, tidak bisa pegang janji.
Peribahasa itu menggambarkan orang yang kerap kali berubah dalam perkataan dan pendirian alias tidak konsisten. Sikap tidak konsisten tentu saja akan mengecewakan orang-orang di sekitarnya.
Artikel Terkait
HIKAYAT CELENG Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi
KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku