HIKAYAT CELENG
Oleh: Trias Kuncahyono (Wartawan Senior, Penulis Buku)
TITIKTEMU.CO - Begitu dengar kata “celeng”, mendadak ingat Romo Sindhunata dan perupa Djoko Pekik. Romo membuat beberapa tulisan tentang celeng. Bahkan Romo Sindhu mengarang novel berjudul Menyusu Celeng (2019).
Djoko Pekik membuat lukisan celeng yang diberi judul “Berburu Celeng.” Lukisan cat minyak di atas kanvas itu menampilkan seekor celeng besar sekali, hitam, dengan badan terbalik, diikat pada bambu dan digotong oleh dua lelaki kurus yang digambarkan busung lapar.
Yang menarik, kerumunan rakyat di sekitar celeng itu bersuka-ria, penuh kegembiraan, sambil menari-nari. Rakyat menyambut tertangkapnya celeng hitam dengan suka-cita dan dilukis dengan penuh warna beda dengan warna celeng yang hitam legam.
Baca Juga: Chelsea Pimpin Klasemen Liga Inggris Lagi, setelah Menang Tipis di kandang Brentford
Lukisan “Berburu Celeng” itulah yang menginspirasi Romo Sindhu menulis artikel berjudul Negeri Para Celeng (Kompas, 31/6/2011).
Dalam artikel itu, Romo Sindhu antara lain menulis, “Lukisan itu dibuat setelah kejatuhan Orde Baru. Konteksnya fajar merekahnya era reformasi. .. Menyambut lukisan tersebut, penulis mengeluarkan sebuah buku berjudul Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka (1999).
Seperti halnya rakyat waktu itu, penulis juga diliputi euforia reformasi. Toh, terpengaruh oleh kecemasan si pelukis, penulis bertanya: ”Celeng dhegleng sudah tertangkap, tapi mengapa di depan semuanya tambah gelap?”
Baca Juga: Kemenag : Tuntunan Pengeras Suara Masih Relevan. Begini Aturannya!
Kata Romo Sindhu, dalam artikelnya, dalam masyarakat Jawa ada yang namanya pesugihan babi ngepet atau bagong liyer atau celeng gontheng. Seperti halnya kodhok ijo, kandhang bubrah, atau Nyai Blorong, pesugihan babi ngepet adalah sejenis upaya menumpuk kekayaan dengan cara menyerahkan diri kepada setan. Sebagai imbalan penyerahan diri, pemilik pesugihan akan dibantu kekuatan jahat memperoleh kekayaan dunia tanpa batas.
Dengan pesugihan babi ngepet atau celeng gontheng, orang dapat mengubah dirinya menjadi celeng. Ia dapat berkeliaran ke mana-mana, mencuri dan mengeruk barang, harta, atau kekayaan tanpa diketahui siapa pun.
Ia bisa mengeduk apa saja, jagung, padi, ketela, dan palawija lain, lalu membawanya pulang ke rumah untuk dijadikan makanan berlimpah bagi dirinya sendiri dan sanak keluarga.
Baca Juga: Mulai Hari Ini, Obat-obatan dan Kosmetik Wajib Memiliki Sertifikat Halal
Celeng gontheng memang sangat rakus. Di desa-desa, celeng gontheng dikenal suka mendatangi orang yang sedang punya hajatan. Maklum, di sana ada banyak uang atau barang hasil hajatan.
Artikel Selanjutnya
3 Bentuk Jual Beli Jabatan Ini Bisa Dijerat Pasal Korupsi, Semua Pejabat Harus Tahu
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Sumber: Trias Kuncahyono
Artikel Terkait
3 Bentuk Jual Beli Jabatan Ini Bisa Dijerat Pasal Korupsi, Semua Pejabat Harus Tahu
Baru Tiga Bulan Jadi Bupati Kolaka Timur Terjaring OTT KPK, Ini Profil Andi Merya Nur
Azis Syamsuddin dalam Pusaran Kasus Suap, Ini Profilnya
KPK Tetapkan 10 Tersangka Korupsi Pengadaan dan Pengesahan Anggaran Kab Muara Enim
Bukan Jebakan, Ini Pertimbangan Polri Merekrut 57 Pegawai yang Dipecat KPK
Terkait Operasi Tangkap Tangan Bupati Musi Banyuasin, KPK Sita Uang Rp1,7 Miliar