Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
I
Günther Uecker adalah seorang seniman dari Mecklenburg, sebuah wilayah bersejarah di Jerman utara yang lahir pada tahun 1930. Menurut majalah seni internasional, Apollo edisi 17 Februari 2017, Günther Uecker adalah seniman op (optik) yakni model seni visual yang menggunakan ilusi optik dan seorang seniman instalasi.
Dalam pameran instalasinya di galeri seni Rostock, kota terbesar di wilayah Mechlenburg, yang diberi judul Der geschundene Mensch (manusia teraniaya), Günther Uecker memamerkan 14 objek.
Ia menampilkan visi hidup dan penderitaannya dalam semacam potret batin, memroses pengalaman, mencatat sensasi dan mencoba mengungkap kekuatan dasar nyata dalam tanda-tanda sensitif: agresi, cedera, kehancuran, yang dia pegang dengan sikap mendamaikan dan melindungi.
Baca Juga: Kalahkan Everton 3-0, Manchester City Tempel Pimpinan Klasemen Liga Premier Inggris Chelsea
Günther Uecker menderetkan 60 kata dari Perjanjian lama yang melukiskan destruksi manusia atas sesamanya.
Misalnya, merampas, menghancurkan, membakar, menganiaya, menikam, menyiksa, memecah-belah, menistakan, melupakan, mencemarkan, mengolok-olok, meludahi, membasmi, menggebuki, mencuri, melecehkan, mencabik-cabik, menyeret, dan menggores.
Kata F Budi Hardiman (2011), kata-kata itu memberikan gambaran manusia mampu menghancurkan sesamanya.
Baca Juga: Wayang Orang Ngesti Pandawa Semarang Kembali Rutin Dipentaskan
Dia menghancurkan dirinya dengan menundukkan diri di bawah dikte naluri-nalurinya. Lewat destruksi, manusia menjadi elemen alam, baik sebagai pelaku maupun sebagai korbannya.
Sebagai pelaku, dia tunduk di bawah dikte proses-proses objektif di luar kendalinya; sebagai korban martabatnya dinistakan ke taraf hewan-hewan yang termangsa dan benda-benda.
II
Artikel Terkait
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
SINDROM TIKUS Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi