HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 19 Oktober 2021 | 12:50 WIB
Ilustrasi tentang Cinta (piqsels.com)
Ilustrasi tentang Cinta (piqsels.com)

HUJAN KASIH
Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan

 

TITIKTEMU.CO - Saudaraku, sekali hujan turun, rerumputan kering hijau kembali. Ketulusan memberi dan melayani menumbuhkan spontanitas daya bangkit bagi semesta kehidupan.

Jiwa manusia sehat tak akan kosong dari rasa simpati pada sesama. Jika seseorang melihat anak kecil berdiri di tubir jurang, ia akan refleks menghela anak itu tanpa sempat berpikir apa suku, agama, atau keuntungan yang didapat.

Baca Juga: Pemegang Tiket WSBK Gratis Antigen dan Transportasi ke Mandalika

Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah kaidah emas bagi kebahagiaan hidup. Kebahagiaan tertinggi, menurut Viktor Frankl, tidaklah terengkuh melalui pencapaian kehendak bersenang atau kehendak berkuasa, tetapi dalam pencapaian kehendak menemukan makna.

Baca Juga: PPKM Jawa-Bali Berlanjut, Anak-anak Boleh Nonton Bioskop dan Masuk Daerah Wisata

Neokorteks otak manusia menjadikannya makhluk pencari makna yang menyadari akan kebingungan dan tragedi nestapa, dan jika kita tak menemukan arti paling mendalam dari hidup, kita mudah jatuh ke lembah keputusasaan.

Adapun makna hidup terengkuh dengan jalan mengembangkan welas asih: bergembira dalam kebahagiaan yang lain dan bersedih dalam kepedihan yang lain.

Ketulusan welas asih yang dipancarkan relawan dan figur teladan bak tetes hujan di tengah terik kemarau etika dan rasa kemanusiaan.

Baca Juga: Pemkot Yogya Bakal Terapkan QR Code Peduli Lindungi di Pasar Tradisional

Siraman pelayanannya hidupkan kembali kebun kehidupan dari kekeringan karena keserakahan korupsi, menimbun harta, mementingkan diri sendiri, serta ketegaan saling membohongi, mengkhianati dan membenci.

Dalam himpitan kesulitan yang melilit kehidupan rakyat, para pemuka bangsa dituntut mawas diri. Dalam terang mawas diri akan tampak bahwa kesulitan warga meraih kebahagiaan hidup disebabkan tabiat elit negeri yg tertawan di kebahagiaan rendah karena rangkaian panjang keinginan yg tak kenal cukup.

Baca Juga: Begini Tips Hindari Pencurian Data Pribadi dari Pinjol Menurut Pakar UGM

Halaman:

Artikel Selanjutnya

TV SEBAGAI DEMAGOG BUDAYA MASSA?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: IG @yudi.latif

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X