TITIKTEMU.CO - Di balik keagungan kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, tersimpan kisah tragis sekaligus menyeramkan tentang seorang tumengung yang berkhianat pada kerajaan dan raja.
Dialah Tumenggung Endranata yang dihukum mati karena dianggap mengkhiantai kerjaan. Sang Tumenggung ini merupakan putra dari Tumenggung Wiraguna yang dalam kisah Rara Mendut.
Tidak hanya dihukum mati, jasad Tumenggung Endranata pun dikubur secara terpisah di mana kepala, badan, dan kakinya berada di lokasi berbeda.
Baca Juga: Prosesi Pemakaman Paku Buwono XIII di Imogiri, Menapaki 500 Anak Tangga ke Puncak Makam Raja-Raja
Dari Punggawa Setia Menjadi Pengkhianat
Tumenggung bernama asli Ngabehi Mertajaya ini dikenal sebagai prajurit tangguh dan setia. Dia banyak membantu Sultan Agung dalam berbagai ekspedisi militer, termasuk penaklukan Demak dan daerah pesisir utara Jawa.
Namun kesetiaan itu luntur. Dalam buku The Concept of Power in Javanese Culture karya G. Moedjanto, pengkhianatan Endranata terjadi ketika Sultan Agung menyiapkan penyerangan besar ke markas VOC di Batavia.
Sultan Agung saat itu berambisi mengusir colonial Belanda dari tanah Jawa, sehingga rencana besar itu menuntut strategi, kematangan strategi, dan tentu saja kerahasiaan tinggi.
Namun, Endranata justru membocorkan seluruh strategi perang kepada pihak Belanda. Akibatnya, seluruh strategi Sultan Agung berantakan karena Belanda keburu mengetahauinya.
Buku Tuah Bumi Mataram dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II karya Peri Mardiyono mencatat Belanda membakar lumbung padi dan logistik pasukan Mataram. Banyak prajurit kelaparan dan gagal tiba di Batavia.
Fitnah dan Kematian Adipati Pragola II
Pengkhianatan Endranata yang lain disebut dia menjadi penyebab tewasnya Adipati Pragola II, penguasa Pati yang sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Sultan Agung.
Endranata memfitnah Pragola II dengan mengatakan bahwa sang adipati sedang menyiapkan pemberontakan melawan Mataram. Mendengar laporan itu, Sultan Agung murka.
Artikel Terkait
Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri Rabu 5 November, Sebelumnya Dikirab Menuju Loji Gandrung
Mengenal Makam Imogiri, Peristirahatan Terakhir Raja-raja Mataram Islam Sejak Sultan Agung
Paku Buwono XIII Wafat, Ini Profil Putra Mahkota Gusti Purbaya, Calon Penerus Tahta Keraton Surakarta
Paku Buwono XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Hentikan Suara Gamelan hingga Pemakaman Selesai
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta
PB XIII Wafat, Siapa Calon Raja Berikutnya?
Prosesi Pemakaman PB XIII: Kirab Agung dan Tradisi Adat, Ini Jadwalnya
Sejarah Panjang Raja-Raja Solo: Dari Pakubuwono III hingga PB XIII yang Baru Wafat
Kenapa Raja Surakarta Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri?
Tragedi di Masjid Agung Sibolga: Kronologi Mahasiswa Tewas Dikeroyok hingga Lima Pelaku Ditangkap
Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara
Begini Prosesi Pemakaman Paku Buwono XIII dari Keraton Surakarta Menuju Imogiri
Sinuwun PB XIII Wafat, Akankah Konflik Suksesi Keraton Surakarta Muncul Kembali? Seno Adjie: Jaga Suasana Kondusif, Pihak Luar Janga Ikut Campur