TITIKTEMU.CO - Di tengah hiruk-pikuk revolusi 1945, Surakarta menyimpan cerita yang jauh dari citra kerajaan yang anggun.
Di balik tembok-tembok keraton, seorang raja muda yang belum genap matang secara politik, apalagi mental, harus berhadapan dengan gelombang perubahan yang mustahil dibendung.
Dialah Pakubuwono XII, Raja Keraton Kasunanan Surakarta yang tak pernah benar-benar memiliki kendali atas kekuasaannya.
Rentetan penculikan, tekanan laskar, hingga tuntutan pembubaran daerah istimewa menempatkannya dalam posisi yang nyaris tragis: pemimpin tanpa daya di tengah revolusi yang menelan tatanan lama.
Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta: Ketika Paku Buwono IV Dikepung VOC, Hamengkubowono I dan Mangkunegara
Raja Muda di Tengah Perubahan Zaman
Sebelum menjadi raja, Bendoro Raden Mas (BRM) Gusti Suryo Guritno adalah anak muda putus sekolah karena perang.
Setelah menempuh pendidikan di sekolah elite Eropa di Bandung, terpaksa pulang ke Solo di tengah kecamuk Perang Pasifik yang mengubah segalanya.
Pada 1944, ayahnya, Pakubuwono XI,wafat, meninggalkan takhta untuk putranya yang masih sangat muda.
Ben Anderson mencatat Pakubuwono XII naik takhta tanpa pengalaman, tanpa minat politik, bahkan tanpa ketertarikan berarti kecuali pada kesenangan pribadi.
Pemerintahan sehari-hari ditangani ibunya bersama Patih Sosrodiningrat. Pada saat yang sama, pengaruh kesunanan menurun sebelum Jepang datang: keuangan keraton kacau dan otoritas tradisional merosot.
Situasi ini membuat kedudukannya berbeda dari para leluhur Mataram, termasuk Hamengkubuwono IX di Yogyakarta yang justru menjadi pilar penting republik muda.
Monarki Surakarta Goyah
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik