Sang Raja langsung mengerahkan pasukan untuk menyerang Pati. Pertempuran sengit pun terjadi, dan Adipati Pragola II gugur terkena tombak pusaka Sultan Agung, Kyai Baru.
Setelah peristiwa itu, Sultan Agung mulai mencurigai adanya kebohongan. Beberapa pejabat kerajaan melaporkan bahwa semua kekacauan itu berawal dari intrik Tumenggung Endranata.
Begitu kebenarannya terungkap, kemarahan Sultan Agung meluap. Dia menilai pengkhianatan Endranata bukan hanya melawan raja, tetapi juga mengkhianati tanah air dan kepercayaan rakyat Mataram.
Hukuman Mengerikan dari Sultan Agung
Atas pengkhianatannya, Tumenggung Endranata dijatuhi hukuman mati paling kejam di masa itu. Dia ditangkap dan dipenggal di depan para abdi dalem, sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani berkhianat.
Namun yang membuat kisah ini begitu terkenal bukanlah cara matinya, melainkan cara Sultan Agung menguburkan jasad Endranata.
Dalam berbagai sumber, disebutkan bahwa tubuh Endranata tidak dimakamkan secara utuh. Tubuhnya dibagi menjadi tiga bagian.
Kepalanya dikubur di tengah Gapura Supit Urang, kakinya dikubur di kolam sekitar pemakaman, sementara badannya dikubur di bawah anak tangga menuju makam utama Imogiri.
Bahkan hingga kini, tangga menuju kompleks makam raja di Imogiri memiliki satu anak tangga yang bentuknya tidak rata, yang diyakini sebagai tempat di mana tubuh Endranata dikubur.
Dengan menguburkan tubuh di bawah tangga, maka setiap orang yang menaiki tangga tersebut secara simbolik menginjak jasad sang pengkhianat.
Baca Juga: Ini Pesan Sri Sultan HB X Soal Regenerasi Keraton Solo
Makna Filosofis Hukuman Endranata
Cara penguburan yang tidak biasa itu bukan semata bentuk balas dendam, tapi juga mengandung pesan moral dan filosofi Jawa yang mendalam.
Sultan Agung ingin agar nama Endranata menjadi pengingat abadi bahwa pengkhianatan akan membawa kehinaan selamanya, bahkan setelah kematiannya.
Artikel Terkait
Raja Solo Sinuhun Pakubuwono XIII Wafat, Keraton Surakarta Berduka
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik
Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri Rabu 5 November, Sebelumnya Dikirab Menuju Loji Gandrung
Mengenal Makam Imogiri, Peristirahatan Terakhir Raja-raja Mataram Islam Sejak Sultan Agung
Paku Buwono XIII Wafat, Ini Profil Putra Mahkota Gusti Purbaya, Calon Penerus Tahta Keraton Surakarta
Paku Buwono XIII Wafat, Keraton Yogyakarta Hentikan Suara Gamelan hingga Pemakaman Selesai
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta
PB XIII Wafat, Siapa Calon Raja Berikutnya?
Prosesi Pemakaman PB XIII: Kirab Agung dan Tradisi Adat, Ini Jadwalnya
Sejarah Panjang Raja-Raja Solo: Dari Pakubuwono III hingga PB XIII yang Baru Wafat
Kenapa Raja Surakarta Paku Buwono XIII Dimakamkan di Imogiri?
Tragedi di Masjid Agung Sibolga: Kronologi Mahasiswa Tewas Dikeroyok hingga Lima Pelaku Ditangkap
Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara
Begini Prosesi Pemakaman Paku Buwono XIII dari Keraton Surakarta Menuju Imogiri
Sinuwun PB XIII Wafat, Akankah Konflik Suksesi Keraton Surakarta Muncul Kembali? Seno Adjie: Jaga Suasana Kondusif, Pihak Luar Janga Ikut Campur