TITIKTEMU.CO - Nama Herman Willem Daendels idetik dengan citra pemimpin keras dan tegas. Sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808–1811), dia membawa perubahan besar dalam tata kelola pemerintahan.
Salah satu langkah beraninya adalah menertibkan eksploitasi hutan di Pulau Jawa. Di masa VOC, hutan ditebang sembarangan, kondisi alam rusak, tanpa reboisasi, dan masyarakat sekitar tidak merasakan manfaat apa pun.
Daendels datang membawa pendekatan baru: pengelolaan hutan berbasis kontrol negara, larangan pembalakan liar, dan disiplin tinggi yang bahkan membuatnya dijuluki ‘Mas Galak’.
Baca Juga: Lemahnya Kekuasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta
Kerusakan Hutan Warisan VOC
Setelah lebih dari satu abad keberadaannya di Nusantara, VOC meninggalkan banyak kekacauan, termasuk pengelolaan lingkungan yang amburadul.
Kepentingan dagang menjadi prioritas utama, sementara kesejahteraan warga, dan kelestarian alam terabaikan. Hutan-hutan di Jawa dibabat untuk bahan kapal, rumah, serta kebutuhan industri seperti pabrik gula.
Penebangan dilakukan tanpa kendali. Pengusaha Tionghoa maupun lokal yang terlibat dalam rantai perdagangan kayu semakin memperparah situasi.
Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta: Ketika Paku Buwono IV Dikepung VOC, Hamengkubowono I dan Mangkunegara
VOC tidak membuat aturan yang jelas, hingga akhirnya hutan di berbagai wilayah Jawa mengalami kerusakan parah dan gundul. Taka ada upaya penananaman kembali.
Dampaknya pun terasa langsung: bencana banjir, longsor, dan ketidakseimbangan ekosistem yang kemudian selalu menjadi momok masyarakat, terutama di musim hujan.
VOC tidak pernah menunjukkan itikad untuk memperbaiki kondisi hutan. Baru setelah kongsi dagang itu bangkrut pada 1799, pemerintah Belanda mulai memikirkan arah baru.
Namun jalan panjang pembenahan baru benar-benar dimulai ketika Daendels dikirim untuk memulihkan kondisi Hindia Belanda, hamper 10 tahun setelah kebangkrutan VOC.
Artikel Terkait
Eksekusi DN Aidit dan Senyum Soeharto
Java Preanger, Secangkir Kopi dari Jawa yang Mendunia
Melihat Stasiun Solo Kota yang Menyimpan Sejarah Penting Perkeretaapian
Stasiun Solo Jebres, Dahulu Sering Digunakan Keluarga Kerajaan
Menelusuri Berdirinya Organisasi Kepemudaan Di Kota Solo Dari Jong Java Hingga Indonesia Muda
Rekam Jejak Stasiun Purwosari Dari Zaman Belanda
William Shakespeare: Penyair Jenius di 4 Abad Lalu yang Karyanya Tetap Hidup di Panggung Dunia
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta