Daendels dan Reformasi Hutan Jawa: Kisah Mas Galak Perangi Pembalakan Liar

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Selasa, 2 Desember 2025 | 14:25 WIB
Daendels dan Reformasi Hutan Jawa: Kisah Mas Galak Perangi Pembalakan Liar. (Rijksmuseum Amsterdam)
Daendels dan Reformasi Hutan Jawa: Kisah Mas Galak Perangi Pembalakan Liar. (Rijksmuseum Amsterdam)

TITIKTEMU.CO - Nama Herman Willem Daendels idetik dengan citra pemimpin keras dan tegas. Sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808–1811), dia membawa perubahan besar dalam tata kelola pemerintahan.

Salah satu langkah beraninya adalah menertibkan eksploitasi hutan di Pulau Jawa. Di masa VOC, hutan ditebang sembarangan, kondisi alam rusak, tanpa reboisasi, dan masyarakat sekitar tidak merasakan manfaat apa pun.

Daendels datang membawa pendekatan baru: pengelolaan hutan berbasis kontrol negara, larangan pembalakan liar, dan disiplin tinggi yang bahkan membuatnya dijuluki ‘Mas Galak’.

Baca Juga: Lemahnya Kekuasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta 

Kerusakan Hutan Warisan VOC

Setelah lebih dari satu abad keberadaannya di Nusantara, VOC meninggalkan banyak kekacauan, termasuk pengelolaan lingkungan yang amburadul.

Kepentingan dagang menjadi prioritas utama, sementara kesejahteraan warga, dan kelestarian alam terabaikan. Hutan-hutan di Jawa dibabat untuk bahan kapal, rumah, serta kebutuhan industri seperti pabrik gula.

Penebangan dilakukan tanpa kendali. Pengusaha Tionghoa maupun lokal yang terlibat dalam rantai perdagangan kayu semakin memperparah situasi.

Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta: Ketika Paku Buwono IV Dikepung VOC, Hamengkubowono I dan Mangkunegara    

VOC tidak membuat aturan yang jelas, hingga akhirnya hutan di berbagai wilayah Jawa mengalami kerusakan parah dan gundul. Taka ada upaya penananaman kembali.

Dampaknya pun terasa langsung: bencana banjir, longsor, dan ketidakseimbangan ekosistem yang kemudian selalu menjadi momok masyarakat, terutama di musim hujan.

VOC tidak pernah menunjukkan itikad untuk memperbaiki kondisi hutan. Baru setelah kongsi dagang itu bangkrut pada 1799, pemerintah Belanda mulai memikirkan arah baru.

Namun jalan panjang pembenahan baru benar-benar dimulai ketika Daendels dikirim untuk memulihkan kondisi Hindia Belanda, hamper 10 tahun setelah kebangkrutan VOC.

Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X