Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Jumat, 14 November 2025 | 15:05 WIB
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro. (Wikipedia)
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro. (Wikipedia)

TITIKTEMU.CO - Penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 menjadi pukulan besar bagi para bangsawan yang menaruh simpati pada perjuangan melawan kolonial, termasuk Raja Surakarta Paku Buwono VI.

Saat harapan untuk mengusir Belanda pupus, sang raja muda dari Surakarta itu justru memilih langkah berani yang berujung pada nasib tragis.

Pada malam sunyi 6 Juni 1830, Paku Buwono VI bergerak diam-diam menuju Parangtritis. Pantai Selatan Jawa itu memang kerap menjadi tempatnya menenangkan diri dan mencari petunjuk batin.

Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta, Paku Buwana III: Raja yang Berkuasa di Bawah Bayang-bayang Belanda

Namun kali ini, perjalanan itu menjadi langkah terakhirnya sebagai seorang raja merdeka. Di saat bersamaan, pasukan Belanda di bawah Letnan Kolonel Sollewijn tengah bergerak cepat.

Informasi dari jaringan mata-mata memastikan bahwa Sang Raja berada di wilayah selatan. Tanpa banyak kesulitan, pasukan kolonial menangkapnya di kawasan Mancing, tak jauh dari tempatnya bersemedi.

Setia pada Keraton, Berpihak pada Perlawanan

Paku Buwono VI bukanlah raja yang secara terang-terangan menantang Belanda. Namun, di balik sikapnya yang terlihat patuh, dia menyimpan besar terhadap perjuangan Diponegoro.

Ada banyak catatan sejarah yang menggambarkan bagaimana Sang Raja memainkan peran ganda. Saat Belanda memerintahkan mengirim pasukan ke Kedu untuk menghadapi Diponegoro, dia mengutus Pangeran Kusumo Yudo.

Namun, alih-alih menyerang pasukan Diponegoro, pasukan itu justru menembakkan peluru ke udara dan pura-pura melawan kelompok kecil pribumi secara simbolis.

Upaya itu dilakukan agar catatan perintah Belanda tetap terlihat dipenuhi, tapi tanpa menyakiti perjuangan Diponegoro yang masih terhitung kerabatnya.

Baca Juga: Dua Pangeran, Satu Tahta: Gusti Purboyo dan Hangabehi Sama-Sama Dinobatkan Jadi Raja Solo  

Namun, Residen Nahuys di Surakarta mencium gelagat itu. Dia bahkan sempat mengusulkan agar Paku Buwono VI diturunkan dari tahta.

Namun Gubernur Jenderal di Batavia menolak, hingga akhirnya dugaan keterlibatan Sang Raja terhadap pemberontak makin menguat dari waktu ke waktu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X