Memang Pak Jokowi, bukan presiden RI pertama yang nekat mengunjungi negara yang dikoyak-koyak perang. Tahun 1995, Presiden Soeharto pergi ke Bosnia-Herzegovina, yang dilanda peperangan.
Baca Juga: Presiden Jokowi: Jangan Ada Lagi Kota di Ukraina yang Rusak Akibat Perang
Tetapi bedanya, Presiden Jokowi melawat ke negeri yang dicekam perang, bersama Ibu Negara Iriana. Padahal, Ibu Iriana bisa saja menunggu di Polandia, misalnya. Tetapi, Ibu Iriana menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah Ibu Negara yang harus berada di samping Kepala Negara, ibarat kata dalam keadaan untung dan malang, bungah lan susah, dipuji dan dicerca, dikagumi dan dibenci.
Ada hal lain yang membuat kunjungan Presiden Jokowi istimewa, kalau boleh dibilang begitu. Pak Jokowi dan Ibu Iriana mengunjungi sekaligus, negara yang diserang dan yang menyerang; negara korban dan pelaku penyerangan.
Foto-foto Presiden dan Ibu Negara di Ukraina yang beredar di media sosial–antara lain mengunjungi Rumah Sakit Pusat di Kiev, Ibu Negara memeluk korban perang dan mengunjungi kota Irpin yang dibombardir Rusia– tidak bisa menceritakan hal lain kecuali mempertegas betapa tebalnya bela rasa, compassion, rasa kepedulian, welas asih dan kemanusiaan mereka.
Menurut cerita, ketika Pak Harto ke Bosnia-Herzegovina yang sedang perang, tidak mengenakan rompi anti-peluru. Kata Menlu Retno lewat Whatsapp kemarin, “Presiden juga tidak mengenakan rompi peluru. Ibu Negara pun, demikian, tidak memakai rompi anti-peluru. Saya pun tidak.”
Dalam perjalanan kereta dari Ukraina menuju Polandia, lewat Whatsapp Menlu juga cerita, Presiden menaiki mobil yang disediakan pemerintah Ukraina. Tapi, bukan panser. Mobil keras, kata Menlu. Waktu di Afganistan juga demikian, ditambah dikawal panser dan helikopter.
***
Kunjungannya ke Ukraina, pertemuannya dengan para korban perang, pembicaraannya dengan Presiden Ukraina dan Presiden Rusia, bukan untuk mencari tepuk tangan; bukan untuk mencari panggung; bukan untuk mencari keuntungan diri. Tidak.
Tetapi, kunjungan itu untuk berbela rasa, untuk mengupayakan perdamaian, untuk menghentikan perang yang kata Paus Fransiskus, telah menumpahkan “sungai darah dan air mata.”
Ketika para pemimpin dunia berteriak-teriak yang cenderung memanaskan situasi, Presiden Jokowi bertindak dengan aksi nyata. Ketika negara-negara Barat dan AS memberikan bantuan senjata untuk melawan kekuatan Rusia, Presiden Jokowi memberikan hatinya, kepedulian manusiawinya, welas-asih. Ketika para pemimpin negara lain mengancam-ngancam, Presiden Jokowi mengajak bicara dari hati ke hati.
Belas kasihan adalah dorongan batin, keinginan hati atau perasaan yang membuat orang merasa sedih ketika melihat penderitaan dan kemalangan sesamanya dan menggerakannya untuk menolong, untuk menyapa, untuk berbagi, untuk peduli. Sikap peduli terhadap sesama tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya, harus diasah dari waktu ke waktu, sejak dari keluarga.
Artikel Terkait
JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"THE GODFATHER" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"KETIBAN PULUNG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Menanti Duel Nikita Mirzani vs Maria Ozawa dalam Laga HS 3 di Bali
Film Pengabdi Setan 2: Communion Lebih Mencekam, Ini Sinopsis dan Jadwal Tayang
'KATA ORANG POLITIK ITU BEGINI...' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
TENTANG ‘KEKASIH’ BARU KAESANG (1): Erina Gudono Tanggapi Soal 'Puteri Terfitnah'
TENTANG ‘KEKASIH’ BARU KAESANG (2): Sama Seperti Keluarga Jokowi, Erina Gudono Menyukai Gudeg Solo Mbak Yus
'KOALISI GADO-GADO' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'SEMOGA CEPAT WARAS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku