"KATA ORANG, POLITIK ITU BEGINI..."
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
TITIKTEMU.CO - Masa lalu tak pernah selesai. Begitu katanya. Maka ketika kemarin saya bertemu dengan teman-teman lama yang dulu sama-sama di harian Kompas, masa lalu itu segera segar kembali.
Sebenarnya, belum lama-lama amat kami tidak berjumpa setelah sama-sama purnakarya, bahasa halusnya dari pensiun. Tetapi, yang namanya pertemuan, apalagi dengan kawan lama, tetaplah menyenangkan, mengesankan, dan menghidupkan lagi kenangan lama.
Kami diskusi ringan-ringan, cerita-cerita, ngobrol, ketawa-ketiwi, sambil menikmati kopi, teh, dan makanan ringan di kafe tempat kami bertemu. Dan, foto-foto, seperti biasanya dalam suatu pertemuan.
nasdemBaca Juga: Rakernas NasDem Paling Heboh, Rekomendasikan Tiga Nama Bakal Capres 2024, Erick Thohir Terpental
Perbincangan tentang politik mendominasi obrolan kami. Bicara tentang politik, tentang kekuasaan–walau kami tak punya kekuasaan apa pun–selalu menarik. Apalagi politik saat ini yang mulai menghangat menyongsong Pilpres 2024.
Dalam kaitan dengan Pilpres 2024, politik mengandung arti keterampilan meraih serta memertahankan kekuasaan dan keunggulan kekuasaan. Kata Herry-Priyono (2022), di akhir abad ke-16 dan terutama awal abad ke-17, istilah “politik” punya arti peyoratif sebagai kegiatan penuh siasat, culas, dan kotor untuk meraih kekuasaan dan memertahankan kekuasaan.
Itulah mungkin lalu ada anggapan umum bahwa politik itu kotor. Tetapi, kata Franz Magnis-Suseno (1992), anggapan “politik itu kotor”, menjegal semua politisi atau calon politisi yang tetap mau jujur, yang sungguh-sungguh percaya pada cita-cita mereka.
Baca Juga: Tanggapi Hasil Rakernas Nasdem, Bala Anies: Pak Anies Jadi Pilihan Tepat!
Anggapan tersebut juga sekaligus berfungsi sebagai pembenaran atau legitimasi ketidakjujuran dalam politik. Dengan demikian menjadi jelas bahwa anggapan itu mempunyai fungsi yang lebih mendasar dan berdampak lebih luas: prasangka ini melegitimasikan negara kekuasaan.
***
Apalagi, kata banyak orang panggung politik sekarang ini semakin menjadi panggung sandiwara, meminjam istilahnya Ahmad Albar. Memang, orang seringkali lebih fokus pada aspek-aspek negatif politik. Bisa dipahami. Karena di dunia politik terjadi korupsi dan juga ketamakan-ketamakan lain dalam beragam bentuk dan wajah.
Maka tidak bisa dipungkiri, ada kesan bahwa orang biasa biasanya kurang atau malah tidak tertarik pada politik. Mengapa demikian? Ini karena wacana politik di negeri ini sering hanya di sekitar kekuasaan, dan jarang sekali wacana itu berkenaan dengan kesejahteraan umun (bonum commune).
Artikel Terkait
PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
PD III DAN PERIODE III Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL DENGAN JENDERAL, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Cerita Horor SimpleMan Desa Gondo Mayit, Kisah Mistis Pendaki Gunung
"KETIBAN PULUNG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERBUNG: Inspirasi Melankolis.....! "SEBATAS AURORA" Oleh: Triana Rahayu, Episode : V
RESHUFFLE, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
CERBUNG, Inspirasi Melankolis..! Episode 5: LOVE IN TURKEY, Oleh: AhliyaMujahidin
BOBOTOH BERDUKA: Tokoh Bobotoh Eko Maung Nyatakan Panpel akan Diproses. Ungkap Kembali Tragedi “Sabtu Kelabu"
BOBOTOH BERDUKA: Menolak Lupa Tragedi “Sabtu Kelabu”, 11 Penonton Konser Beside di Bandung Meninggal