TITIKTEMU.CO
"THE GODFATHER"
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Pertama
Jumat siang kemarin, saya bertemu dua teman SMP (1971-173): Pranoto dan Herry Gendut Janarta.
Pranoto yang lebih 30 tahun bekerja perusahaan perminyakan, dulu paling pandai di kelas dan baik hati. Ia senang membantu teman-temannya yang biasa-biasa saja dan kurang pintar dalam pelajaran. Herry Gendut Janarta, seorang wartawan, penulis buku biografi dan novelis. Salah satu novelnya, Yogya, Yogya.
Kami ngobrol seru, sambil minum dan makan. Obrolan beragam-ragam; dari cerita-cerita zaman SMP–dari yang lucu-lucu sampai yang nyebelin–hingga soal-soal politik akhir-akhir ini.
Baca Juga: Seorang Jemaah Calon Haji dari Embarkasi Jakarta Meninggal di Madinah, Berusia 64 Tahun
Ngobrol soal politik selalu asyik, apalagi politik di negeri ini yang kadang seperti sandiwara, telenovela, drakor, atau malah cerita ludruk atau ketoprak. Biasa, yang ngobrol merasa seperti ahli politik, analis politik yang kampiun.
“Ingat enggak kamu, Ias, dulu kita pernah diberi nilai nol oleh Pak Sihono, guru geografi. Dia bikin aturan, siapa menyontek dan pemberi sontekan akan dinilai nol saat ulangan, bila ketahuan. Waktu itu, kamu yang duduk di belakangku bertanya padaku atau apa gitu…eh, tahu-tahu didatangi Pak Sihono, dan kertas ulanganku dan kertas ulanganmu langsung diberi nilai nol. Aku dianggap memberikan contekan,” kisah Pranoto.
Baca Juga: Ini Ungkapan Sophia Latjuba Setelah Pernikahan Eva Celia dan Demas
Kami bertiga tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu. Saya sendiri sudah nggak ingat peristiwa itu. Setelah tawa kami berhenti, Pranoto tanya, “Ias, dari mana ya biayanya, partai-politik itu hidup, terutama partai-partai baru yang masih kecil-kecil? Coba, dari mana sumber dananya, mereka mendirikan kantor-kantor DPD dan DPC di seluruh pelosok negeri ini.”
Mendengar pertanyaan itu, Gendut langsung menyahut, “Aku kok njur (lantas) ingat bukunya Mario Puzo, ya, The Godfather”
“Lho, kenapa nDut? Hubungannya apa?” tanya saya.
“Ya, ingat saja, Ias,” jawab Gendut sekenanya, yang membuat kami tertawa. Itu khas jawaban Gendut penulis buku Teguh Srimulat: Berpacu Dalam Komedi dan Melodi.
Artikel Terkait
Sastrawan Okky Madasari:"Tak Ada Yang Bisa Diharapkan Dari KPK, Komisi Pelindung Korupsi."
Ini Perjalanan Politik Dinasti Bupati Probolinggo Selama 18 Tahun
KPK Sebut 95% Data LHKPN Penyelenggara Negara Tak Akurat!
Menkeu Sri Mulyani: Korupsi adalah Penyakit dan Bahayanya Sangat Nyata!
Presiden Joko Widodo: Metode Pemberantasan Korupsi Harus Disempurnakan
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi Kena OTT KPK, Segini Kekayaannya
Penghentian Penyidikan Dugaan Korupsi Pengadaan Helikopter AW-101 Dipertanyakan