TITIKTEMU.CO
'KOALISI GADO-GADO'
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Selasa lalu, kami ditraktir makan oleh Benny, sahabat sejak tahun 1976. Ketika ditanya, mau makan apa? Kami jawab, yang biasa-biasa saja, yang khas Indonesia, cocok di lidah, dan perut.
Akhirnya, kami bersepakat makan gado-gado, ditambah sate kambing, tahu telur, dan mendoan. Entah paduan makanan itu cocok atau enggak, kami tak peduli. Bagi kami cocok. Sebab soal makan itu selera. Kata pepatah, de gustibus non est disputandum, dalam hal selera, tidak dapat diperdebatkan.
Kata mereka yang tahu, gado-gado berasal dari bahasa Portugis. Kata “gado” dalam bahasa Portugis berarti ternak, hewan pemakan rumput, seperti sapi.
Baca Juga: Jelang Pilpres 2024 Nahdliyin Jadi Rebutan. Cak Imin Serang Yenny Wahid
Tapi ketika kata itu diulang (menjadi kata ulang), “gado-gado” artinya berbeda, yakni makanan yang bahannya adalah sayur-sayuran (bisa kol, kacang panjang, buncis, bayam, pare, mentimun, kentang) ditambah tahu, tempe, dan telur, diguyur bumbu (saus) kacang, ditaburi bawang merah goreng, emping, dan kerupuk.
Ada gado-gado Betawi, gado-gado Padang, dan gado-gado Surabaya. Masing-masing memiliki kekhasan. Enak yang mana? Itu selera. Yah, seperti diminta menilai pecel atau lotek, yang masih sepupuan dengan gado-gado.
***
Begitulah gado-gado, makanan campur-campur yang “disatukan” oleh saus kacang, seperti koalisi partai yang diikat oleh kepentingan. Kepentingan bersama untuk memenangkan kontestasi pemilu. Kandidat presiden mereka terpilih.
Baca Juga: CERBUNG: 'LOVE IN TURKEY' Episode 7, Oleh: AhliyaMujahidin
Pandangan klasik mengatakan, koalisi partai dibangun berdasarkan kesamaan ideologi. Tetapi, pandangan klasik itu sudah tak berlaku. Sekarang, kata Inaki Sagarzazu dan Heike Kluver (2015), alasan pembentukan kepentingan lebih pragmatis, rasional, berorientasi pada tujuan untuk meningkatkan preferensi.
Maka bisa terjadi, misalnya, partai religius dan sekuler yang sebelumnya berada di posisi yang berseberangan dengan ideologi, visi, dan misi yang berbeda, bisa bergabung menjadi kawan membentuk koalisi.
Artikel Terkait
PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
PD III DAN PERIODE III Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL DENGAN JENDERAL, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"THE GODFATHER" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OPINI: "TOPENG-TOPENG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
RESHUFFLE, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'KATA ORANG POLITIK ITU BEGINI...' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku