'KOALISI GADO-GADO' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 26 Juni 2022 | 15:29 WIB
Gado-gado, campuran berbagai macam sayur plus tahu, tempe, telur dan kerupuk (commons.wikimedia.org)
Gado-gado, campuran berbagai macam sayur plus tahu, tempe, telur dan kerupuk (commons.wikimedia.org)

TITIKTEMU.CO

'KOALISI GADO-GADO'

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Selasa lalu, kami ditraktir makan oleh Benny, sahabat sejak tahun 1976. Ketika ditanya, mau makan apa? Kami jawab, yang biasa-biasa saja, yang khas Indonesia, cocok di lidah, dan perut.

Akhirnya, kami bersepakat makan gado-gado, ditambah sate kambing, tahu telur, dan mendoan. Entah paduan makanan itu cocok atau enggak, kami tak peduli. Bagi kami cocok. Sebab soal makan itu selera. Kata pepatah, de gustibus non est disputandum, dalam hal selera, tidak dapat diperdebatkan.

Kata mereka yang tahu, gado-gado berasal dari bahasa Portugis. Kata “gado” dalam bahasa Portugis berarti ternak, hewan pemakan rumput, seperti sapi.

Baca Juga: Jelang Pilpres 2024 Nahdliyin Jadi Rebutan. Cak Imin Serang Yenny Wahid

Tapi ketika kata itu diulang (menjadi kata ulang), “gado-gado” artinya berbeda, yakni makanan yang bahannya adalah sayur-sayuran (bisa kol, kacang panjang, buncis, bayam, pare, mentimun, kentang) ditambah tahu, tempe, dan telur, diguyur bumbu (saus) kacang, ditaburi bawang merah goreng, emping, dan kerupuk.

Ada gado-gado Betawi, gado-gado Padang, dan gado-gado Surabaya. Masing-masing memiliki kekhasan. Enak yang mana? Itu selera. Yah, seperti diminta menilai pecel atau lotek, yang masih sepupuan dengan gado-gado.

***


Koalisi. Ilustrasi
Koalisi. Ilustrasi (Istimewa)

Begitulah gado-gado, makanan campur-campur yang “disatukan” oleh saus kacang, seperti koalisi partai yang diikat oleh kepentingan. Kepentingan bersama untuk memenangkan kontestasi pemilu. Kandidat presiden mereka terpilih.

Baca Juga: CERBUNG: 'LOVE IN TURKEY' Episode 7, Oleh: AhliyaMujahidin

Pandangan klasik mengatakan, koalisi partai dibangun berdasarkan kesamaan ideologi. Tetapi, pandangan klasik itu sudah tak berlaku. Sekarang, kata Inaki Sagarzazu dan Heike Kluver (2015), alasan pembentukan kepentingan lebih pragmatis, rasional, berorientasi pada tujuan untuk meningkatkan preferensi.

Maka bisa terjadi, misalnya, partai religius dan sekuler yang sebelumnya berada di posisi yang berseberangan dengan ideologi, visi, dan misi yang berbeda, bisa bergabung menjadi kawan membentuk koalisi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X