JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Sabtu, 2 April 2022 | 22:37 WIB
Ilustrasi Jl Malioboro Yogyakarta ( Instagram @malioboro_insta)
Ilustrasi Jl Malioboro Yogyakarta ( Instagram @malioboro_insta)

JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

I


TITIKTEMU.CO - Bila ingat Yogya—ada yang nulis Jogja—selalu ingat kata aman dan damai, toleran, berbudaya, santun, ramah, terbuka, dan serentetan istilah atau kata lain yang menggambarkan sifat, karakter, watak baik masyarakat. Juga ingat gotong-royong, rembug desa, dialog, budaya angkringan, dan berbagai kebiasaan baik dalam hidup bermasyarakat.

Ingat Yogya juga ingat slogan yang berbunyi “Yogya Berhati Nyaman” (Perda Kota Yogyakarta No.1, Th 1992). Tentu, ada maksudnya mengapa memilih sesanti yang dijiwai oleh sesanti Mengayu Hayuning Bawana, memperindah keindahan dunia (sesanti yang ditulis dalam lambang Kota Pradja Djogjakarta) itu.

Sesanti yang memiliki asas harmoni, kelestarian, lingkungan, sosial budaya ini dicetuskan oleh Sultan Agung. Konsep ini sejatinya mengupayakan keselamatan, memelihara kehidupan, menjaga alam dari kerusakan, serta mempertahankan keseimbangan hubungan antar-makhluk di dunia.

Baca Juga: Tambah Nyaman Nih Kuliah, UGM Luncurkan Bus Listrik Trans Gadjah Mada Keliling Kampus. Simak Jadwalnya

KBBI mengartikan kata “nyaman” sebagai segar, sehat, sedap, sejuk, dan enak.

Ingat Yogya, juga ingat konsep tata ruang sumbu nyegara gunung (poros laut gunung). Rasanya tidak ada kota di dunia ini memili konsep tata ruang seperti itu.

Konsep sumbu nyegara gunung diwujudkan dengan membuat garis imajiner lurus dari selatan ke utara, yang menghubungkan Laut Kidul (Samudra Indonesia), Parangkusumo, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih (Tugu Golong-gilig), dan Gunung Merapi.

Baca Juga: Doa Harian Ramadhan Hari ke-1 Hingga Hari ke-10, Amalkan Biar Puasa Tambah Sempurna

Hal ini merupakan pembagian dari aspek Jagat Alit (mikrokosmos) dan Jagat Ageng (makrokosmos) sehingga keberadaan Gunung Merapi tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakatnya (National Geographic Indonesia, 2015).

Filosofi Poros Imajiner yakni sumbu nyegara gunung dapat dimaknai sebagai sebuah harmonisasi antara lingkungan dan fisik.

Yakni, melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablum Minallah), manusia dengan manusia (Hablum Minannas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari Gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Ngayogyakarta dan air (tirta) dari Laut Selatan, angin (maruta) dan akasa (ether).

Baca Juga: Liverpool Duduki Puncak Klasemen Liga Inggris, Salip Manchester City, setelah Menang 2-0 atas Watford

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X