TITIKTEMU.CO
"KETIBAN PULUNG"
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Kesatu
Saya lahir dan tumbuh, menjadi dewasa di desa. Masa itu, suasana kehidupan di desa betul-betul nyaman, aman, dan damai. Keakraban, keguyuban, keramahan, saling peduli, saling menghomati, dan gotong royong antar-warga, masih begitu kental.
Sekarang ini beberapa hal sudah luntur. Yang paling mencolok adalah makin pudarnya kerukunan antar-penduduk desa yang beda agama. Dulu, perbedaan agama tak pernah jadi soal. Kenapa sekarang jadi soal?
Yang juga masih saya ingat, setiap kali ada pemilihan kepala dukuh dan lurah, pasti ada sebuah “ritual.” Pagi-pagi jauh sebelum matahari terbit sekitar subuh, penduduk desa, keluar rumah. Mereka menuju ke tempat yang terbuka, yang bisa melihat langit tak terhalangi, biasanya di daerah persawahan.
Baca Juga: Jenazah Eril akan Disemayamkan di Gedung Pakuan Nanti Malam Pukul 22.00
Di tempat itu, mereka menunggu pertanda dari langit, yang akan menjadi petunjuk siapa yang direstui Kuasa Langit untuk memimpin mereka. Tanda dari Kuasa Langit itu bisa berupa andaru (ndaru) atau pulung.
Biasanya, menurut cerita orang-orang tua, ndaru berwujud cahaya bercorak kuning kemilau yang pinggirnya kemerah-merahan. Seseorang yang ketiban sinar ndaru akan memperoleh anugerah. Ini bisa berupa jabatan atau kekayaan.
Kalau andaru berwujud cahaya kuning, pulung yang juga jatuh dari langit bercorak biru kehijauan. Umumnya seorang yang kejatuhan pulung, akan menjadi orang terhormat, disegani.
Baca Juga: Begini Pengertian Miqat untuk Haji dan Umrah, Jamaah Wajib Tahu
Orang yang ketiban ndaru, akan sangat berbahagia, mendapat keberuntungan. Maka ada istilah “koyo ketiban ndaru”, maksudnya mendapat kebahagiaan tak terkira, dalam berbagai rupa seperti kejatuhan ndaru.
Bila ndaru atau pulung jatuh ke rumah salah seorang calon, kandidat dukuh atau lurah, itu berarti dialah yang diyakini nanti akan memenangi pemilihan. Maka orang pun lalu memburu, andaru, memburu pulung. Itu cerita dulu. Cerita orang desa.
Artikel Terkait
PD III DAN PERIODE III Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BAPAK KARDINAL DAN IMAM BESAR Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL DENGAN JENDERAL, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"THE GODFATHER" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OPINI: "TOPENG-TOPENG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku