NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Selasa, 17 Mei 2022 | 12:43 WIB
Balon warna-warni. Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Balon warna-warni. Ilustrasi (Foto: Istimewa)

TITIKTEMU.CO

NGOBROL CAPRES
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku


Pertama

Hari Rabu malam lalu, seperti biasa, kami berlima berkumpul ngobrol sambil ngopi dan ngeteh. Salah seorang kawan menyebutnya sebagai “Majelis Reboan”, walau yang kumpul hanya lima orang. Yang lain menamai “Jemaat Reboan”. Yang biasa berpikiran praktis menyebutnya sebagai “Ngobrol Raboan.”

Apa pun namanya, tapi pertemuan kami setiap Rabu, bermanfaat, sekurang-kurangnya kami bisa bertemu, ngobrol, ngopi, ngeteh, makan-makan (kadang-kadang makan besar tetapi lebih biasa makanan kecil), dan tertawa bersama. Tertawa itu penting di zaman seperti sekarang-sekarang ini.

Obrolan kami kali ini, didominasi isu politik. Lebih khususnya lagi, politik menuju istana. Topik itu menarik. Sebab, bukankah sudah banyak orang ingin masuk istana menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Baca Juga: Polemik Deklarasi Ganjar Capres, Pengurus PDI-P Jateng Balas Tudingan Loyalis Ganjar Pranowo

Bahkan ada juga yang sudah tidak sabar, ingin buru-buru, sampai-sampai nggak mau menunggu hingga Februari 2024, saat dilaksanakan pemilu presiden. Lalu menggelar demo dengan alasan-alasan yang dibuat-buat.

Kata orang Jawa, itulah sikap nggege mangsa (mendahului mangsa atau waktu). Ini terkait erat dengan sikap hidup dan kaitan jati diri manusia sebagai individu, sosial dan umat ciptaan Tuhan.

Ungkapan aja nggege mangsa adalah nasihat agar dalam upaya mencapai maksud atau cita-cita tertentu, orang harus mampu mengendalikan dirinya. Tidak menghalalkan segala cara, termasuk dalam hal ini, berbuat curang atau berjualan agama, bermain sektarian yang sangat berisiko memecah-belah bangsa.

Baca Juga: Ketum IKA GP Ansor Doakan Ketua KPU Amanah, Tidak Tergoda...

Tanpa didasari oleh pengendalian diri dan keyakinan bahwa segalanya akan ditentukan oleh Tuhan, seseorang seringkali tergelincir pada sikap nggege mangsa . Padahal, dalam hidup kita ini selalu ada invisible hand (istilah Adam Smith) atau providentia Dei, penyelenggaraan Ilahi.

Seperti dikatakan dalam filosofi Jawa bahwa dalam mencapai suatu keinginan atau cita-cita, seseorang dianjurkan untuk mbudidaya linambaran nyenyuwun marang Gusti (berusaha sambil memohon kepada Tuhan). Tidak ada istilah potong kompas, menerabas. Sikap ini mencerminkan adanya pengakuan bahwa ada providentia Dei ada invisible hand.

Dari keinginan yang tidak terkendali itu, seseorang bisa terperosok pada tindakan negatif asal tujuan atau keinginannya tercapai. Ini yang banyak dilakukan orang selama ini. Tak pandang buku, baik terdidik maupun yang kurang terdidik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X