Itu berarti, koalisi dibentuk, untuk memenuhi threshold atau ambang batas (batas minimal dukungan atau suara yang mesti dimiliki oleh peserta pemilu untuk memperoleh hak tertentu dalam gelaran pemilu) syarat pengajuan pasangan calon menurut UU.
Inilah yang “memaksa” partai-partai bersikap rasional dan pragmatis untuk bergabung membentuk koalisi. Mereka tidak keukeuh memegang ideologi partai–dengan berbagai alasan–demi kepentingan politik jangka pendek: merebut kekuasaan.
Baca Juga: Gastronosia: Dari Borobudur untuk Indonesia hadir dalam Pop Up Museum di Jakarta
Dalam politik, hal semacam itu, biasa saja. Bukankah salah satu definisi politik adalah the art of possible, seni kemungkinan. Maka, selalulah dicari cara yang memungkinkan. Dalam hal pemilu adalah memungkinkan memenangi pemilu presiden, kandidat presidennya terpilih.
Jadi koalisi ibarat kata tidak seperti pecel atau lotek, yang berbahan sayur. Semua serba sayur bahan mentahnya; sedangkan tempe, peyek, telur, atau kerupuk hanya sebagai pelengkap saja. Nggak ada, ya nggak papa.
Koalisi lebih seperti gado-gado yang bahan mentah utamanya, tidak hanya berbagai macam sayur, tapi ada tempe, tahu, telur, emping, krupuk….lalu diguyur sambel kacang–bisa pedas, bisa tidak, atau agak-agak pedas–sesuai selera… Enak nggak enak, urusan masing-masing yang memakannya…
Begitulah koalisi seperti gado-gado.***
Artikel Terkait
PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
PD III DAN PERIODE III Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL DENGAN JENDERAL, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"THE GODFATHER" Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
OPINI: "TOPENG-TOPENG" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
RESHUFFLE, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'KATA ORANG POLITIK ITU BEGINI...' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku