TITIKTEMU.CO
NGOBROL DENGAN JENDERAL
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Kesatu
Kemarin, saya menerima pesan singkat lewat WA dari seorang sahabat, yang biasa saya sapa Jenderal. Ia sehari-hari berkutat dengan masalah-masalah intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Hidupnya dipertaruhkan untuk membela dan mempertahankan keutuhan dan persatuan NKRI, mempertahankan Pancasila dan UUD 1945, dengan segala risikonya.
Isi pesan itu pendek. Tetapi membuat saya kaget, terkejut, dan tidak bisa paham mengapa bisa begitu. Pantas, intoleransi juga radikalisme, ekstremisme, dan ujungnya terorisme hidup di negeri ini. Itu kesimpulan cepat saya, setelah membaca pesan itu. Semoga kesimpulan saya tidak salah.
Begini isi WA itu:
….terkait intoleransi dan radikalisne, hingga sekarang belum dianggap suatu ancaman yang membahayakan negara….
Baca Juga: Dari Ende, Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Membumikan Pancasila
Buru-buru saya bertanya. Siapa yang menganggap bahwa intoleransi dan radikalisme belum merupakan ancaman yang membahayakan negara? Ah, apa nggak salah tuh anggapan seperti itu. Bukankan apa yang ada di tengah masyarakat sudah cukup bercerita dan menjelaskan hal itu?
Apa nunggu ancaman membesar dan sulit diberantas? Kalau dibiarkan, memang akan sulit diberantas. Ibarat kata, kriwikan dadi gerojokan, membiarkan saja yang kecil menjadi besar.
Kedua
Jenderal, begitu saya lebih suka memanggilnya, bukankah sudah terang-benderang terjadi di tengah masyarakat dan dari berbagai survei yang hasilnya menunjukkan bahwa sikap intoleran sudah menyusup ke mana-mana. Bahkan, lewat dunia pendidikan agama. Misalnya, Buya Syafii tahun 2019 (maaf Jenderal, saya suka dan senang mengutip pernyataan Guru Bangsa kita ini) mengingatkan pendidikan agama jangan hanya memenuhi ranah kognitif atau pengetahuan saja.
Pelajaran agama harus lebih efektif menyentuh moral, etika, dan rasa, tetapi tidak perlu sampai mengubah kurikulum. “Pelajaran agama lebih efektif, moral, etika, dan rasa. Memang selama ini mungkin kering, otak diisi, tetapi hati dibiarkan telantar,” kata Buya Syafii Maarif, Senin (Kompas.com, 25/3/2019)
Jenderal, ini saya kutipkan hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (2021) soal toleransi. Kata PPIM, sejumlah penelitian mengkonfirmasi bahwa sikap keterbukaan dan penghargaan terhadap perbedaan, termasuk terhadap kelompok minoritas dan marjinal, aktor-aktor pendidikan kita masih lemah (PPIM, 2017, 2018; Wahid Institute, 2019).
Di ranah pendidikan tinggi, sejumlah studi menunjukkan merebaknya paham ekstremisme di kalangan Perguruan Tinggi/PT (Setara Institute, 2019); fenomena eksklusivisme dalam buku teks pendidikan agama di kalangan PT Umum (PPIM, 2018); aktivis mahasiswa Muslim memiliki pemahaman keagamaan yang cenderung tertutup (CSRC, 2017); kegiatan keagamaan di lingkungan kampus mendorong tumbuh suburnya pandangan keagamaan yang eksklusif (CISForm, 2018); infiltrasi radikalisme dan ekstremisme di lingkungan kampus melalui masjid-masjid kampus (INFID, 2018); serta 39 persen mahasiswa di 7 PT Negeri terpapar paham radikalisme (BNPT, 2018).
Artikel Terkait
Purnapaskibraka Jadi Duta Pancasila, Presiden Jokowi Minta Pancasila Dibumikan Dengan Cara Kekinian
Jangan Salah, Ini Beda Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila
PD III DAN PERIODE III Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Perkuat Kolaborasi Membumikan Pancasila, BPIP Jalin Sinergi dengan Kodam V/Brawijaya
JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Presiden Jokowi akan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila dari Ende NTT
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2022: Link Live Streaming Upacara, Tema, Logo dan Link Twibbon