Moskwa tentu tidak akan merelakan atau diam saja bila Ukraina—yang kata Putin adalah bagian Rusia”; “sepenuhnya diciptakan oleh komunis Rusia” dan bukan “hanya negara tetangga,” tetapi “bagian integral dari sejarah, budaya, dan ruang spiritual kita sendiri,”—jatuh ke pelukan Barat. Rusia akan sangat kehilangan dan berada pada posisi yang terancam; dikepung NATO.
Maka, Rusia jalan terus nggempurin Ukraina. Dan mengancam yang ikut campur akan merasakan akibatnya yang tak tertanggungkan. Ini yang membuat kita semua was-was, jangan-jangan aksi Rusia akan meledakkan PD III, yang kata Menlu Rusia Sergey Lavrov akan lebih dahsyat dan mematikan dibanding dua perang dunia sebelumnya. Sebab, PD III menggunakan senjata nuklir.
Baca Juga: Randugede Hidden Paradise, Destinasi Wisata Baru di Magetan dengan Konsep Resort Sawah dan Outbond
Menurut saya Bung, yang bukan ahli perang ini, PD III hanya kemungkinan terjadi bila AS dan NATO mengirim pasukan masuk ke Ukraina menghadapi Rusia. Tetapi, sampai saat ini, tak satupun pemimpin dunia yang menginginkan bencana dunia itu terjadi. Katakanlah Bung, “belum ada orang gila” yang menginginkan dunia ini hancur lebur jadi debu.
Dan, Ukraina bukan anggota NATO. Jadi, tidak ada kewajiban negara-negara anggota NATO turun tangan. Ini menurut Perjanjian Washington 1949 (serangan terhadap salah satu anggota NATO, dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota) diteken para anggota NATO. Karena tidak bisa campur tangan langsung melalui aksi militer, mereka memberikan bantuan kemanusian (ditegaskan oleh resolusi PBB terakhir), mesin perang, juga menjatuhkan sanksi ekonomi untuk menekan Rusia akan menghentikan operasi militernya.
Semoga seperti itu, Bung. Kata sahabat yang saat itu masih ngopi di warung kopi.
Baca Juga: MotoGP Qatar: Hasil Lengkap Saat Enea Bastianini Merebut Gelar Perdana Kelas MotoGP
III
Lalu, ia kirim WA lagi, “terus bgmn Bung soal ‘Periode III’ dari tadi kita ngomong soal PD III.”
Oh, itu. Kalau tidak ramai, bukan politik, Bung. Karena itu, tidak jarang, suasana yang adem ayem dibikin ramai. Ada saja cara orang untuk membuat ramai. Ada proyek bikin ramai, Bung. Paling banyak terjadi adalah dengan melemparkan isu; yang kemudian akan digoreng, direbus, dibakar, dan dipanggang oleh “para juru masak.”
Sekarang isunya—isu lama yang diperbaharui—adalah “Periode III.” Macam-macam alasannya. Ada yang berdalih agar presiden dapat menuntaskan program pembangunan yang dicanangkannya. Yang lain mengatakan, karena kondisi pandemi covid. Yang lain berargumen, pemilu butuh biaya tinggi, sekarang keuangan negara lagi repot. Dan, banyak lagi.
Baca Juga: Liga Inggris: Derby Manchester, Setan Merah Tak Berdaya, City Makin Kokoh di Puncak Liga Premier
Bung yang terjadi di sini pernah terjadi di Rusia. Tetapi bedanya di Rusia, justru presidenlah (Putin) yang ingin memperpanjang masa jabatannya. Menurut Edwin Bacon (2017), semakin lama seorang pemimpin mempertahankan kekuasaan, semakin menyatu dengan sistem. Ini yang disebut leaderism. Dan, leaderism memiliki resonansi khusus dalam politik Rusia.
Selama era Soviet, leadersim adalah istilah yang peyoratif secara ideologis; untuk menggambarkan pemimpin tunggal yang dominan.
Rezim Putin bukanlah diktator totaliter Stalinis, tetapi bersifat ‘leaderist’, karena rezim tersebut telah merebut negara dan tampaknya memperlakukannya sebagai milik pribadi. Maka, pemimpin lalu melakukan “kudeta konstitusional.”
Artikel Terkait
KURANG SAJEN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"ANTARA ANKARA DAN PENAJAM" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA." Oleh: Hamid Basyaib
Yahya Muhaimin, Tokoh Pemikir Militer Indonesia. Sebuah catatan, oleh: Ibrahim Ambong
POSTINGAN MAS MAR… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku
AKU DULU PINGIN JADI DALANG… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
TONGSENG LIDAH oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku