AKU DULU PINGIN JADI DALANG…
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Pernah, dulu sambil kuliah terbersit dalam hati dan pikiran untuk sekolah di Habirandha. Habirandha adalah sekolah pedalangan yang terletak di Jalan Rotowijayan No. 1 Yogyakarta, dekat Keraton Ngayojahadiningrat.
Sekolah yang didirikan untuk mengembangkan seni pedalangan ini lahir atas inisiatif Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Djadipura pada tahun 1925. Dan, mendapat dukungan penuh dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.
Entah mengapa, dulu saya tertarik sekolah pedalangan. Mungkin, karena semasa masih kecil suka menonton wayang; bahkan ke desa tetangga.
Baca Juga: Mengenang Ki Seno Nugroho Dalang Kondang yang Terinspirasi Sosok Ki Manteb Sudarsono
Di desa saya, ada seorang dalang kondang, pada masanya, Ki Sadewa, yang rumahnya hanya sekitar 100 meter dari rumah orangtua saya. Dan, kami masih ada hubungan keluarga dengan Ki Sadewa. Saya masih ingat, dulu setiap siang main gamelan di rumahnya.
Mungkin juga, saya melihat dalang itu sangat hebat. Ia mampu menyuguhkan cerita yang sangat memesona. Omongannya didengarkan oleh para pandemen, penyuka wayang yang menonton semalam suntuk. Kalau pun tak bisa menonton secara langsung, rela mendengarkan siaran lewat radio, juga semalam suntuk.
Dalang itu sangat berkuasa. Berkuasa membuat cerita. Berkuasa mengarahkan ke mana arah cerita. Berkuasa menentukan siapa menang siapa kalah dalam peperangan. Berkuasa menyuruh para niaga untuk mulai menabuh gamelan dan menghentikan. Berkuasa menyuruh para pesinden nembang sesuai keinginannya.
Baca Juga: Bupati Demak Pentas Kethoprak Wayang, Sosialisasi Gempur Rokok Ilegal
Dalang memang hebat. Kata orang-orang pinter, dalang itu auctor intellectualis. Menurut seorang ahli bahasa dari Perancis Emile Benveniste (1902-1976), kata auctor (bahasa Inggris menjadi author) diambil dari bahasa Latin augeō (augere, kata kerja).
Dalam Kamus Bahasa Latin-Indonesia (K Prent c.m, J Adisubrata, dan WJS Poerwadarminta; 1969) kata augere mempunyai banyak arti, antara lain meningkatkan, memperbesar, menumbuhkan, memperbanyak, memperkuat, memperteguh, memupuk, dan memperkembangkan. Dalam bahasa Inggris menjadi to augment, yang berarti memperbesar, memperbanyak, dan menambah.
Sedangkan kata auctor, dalam kamus yang sama, berarti perencana, perancang, cikal-bakal, pencipta, penemu, pendiri, penegak, pembangun, pembina, dan pembuat.
Baca Juga: Ahli Waris Dalang Legendaris Semarang Ki Nartosabdho Terima Sertifikat HAKI
Artikel Terkait
KURANG SAJEN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Lima Pemain Sepak Bola yang Tetap Bersinar di Usia Senja di Liga Utama Eropa. Siapa saja Mereka?
Perkosa Penyandang Disabilitas Mental Hingga Hamil, Pria Tukang Kredit Ditahan Polres Magelang
Anya Lagi….Anya Lagi…. Anya Geraldine Jadi Pelakor Lagi??
Serba-serbi, Tanggal Penting Tahapan dan Jadwal hingga Partai Final Liga Champions 2022
Liverpool Menjejakkan Satu Kaki di Perempat Final Liga Champions
Hari Jadi Kota Solo Ke-277, Penjualan UMKM Solo Ikut Terdongkrak Berkat Tokopedia
Biaya Haji 2022, Diusulkan Rp 45 Juta Lebih, Jemaah Kloter Pertama Berangkat Pertengahan Tahun ini