KURANG SAJEN oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 18 Januari 2022 | 06:00 WIB
Sajen (Ilustrasi, Istimewa)
Sajen (Ilustrasi, Istimewa)

Aksi menendang dan membuang sesajen yang dilakukan seorang pria di daerah bencana letusan Gunung Semeru, Lumajang, Jawa  Timur, mengingatkan kenangan lama.

Sekitar 45 tahun lalu (tidak tahu sekarang), orang-orang di desa yang mempunyai hajatan akan menaruh sajen (sesaji) di tempat-tempat tertentu. Misalnya, perempatan jalan, jembatan, dan bawah pohon besar.

Para petani yang akan memulai menanam dan memanen padi, biasanya juga membuat sesaji.

Baca Juga: Inter Ditahan Imbang Atalanta, Perebutan Gelar Juara Serie A Masih Sengit

Sesaji—biasanya berupa antara lain, tumpeng kecil, bubur merah, bubur putih, pisang kepok, bunga mawar, kenanga, dan kantil—diletakkan pada sebuah ancak kecil.

Ancak adalah talam yang dibuat dari anyaman bambu (ada juga yang paduan antara bambu dan batang daun pisang).  

Bagi masyarakat Jawa, sesaji adalah hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, terkait pemahaman atau pandangan masyarakat tentang dunia ini. Masyarakat Hindu Bali juga membuat sesaji, sajen

Sebagai contoh. Dalam upacara ruwatansajen merupakan syarat yang penting. Ruwat dalam bahasa Jawa sama dengan kata luwar, berarti lepas atau terlepas. Maka, diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan dari hukuman atau kutukan dewa yang menimbulkan bahaya, malapetaka atau keadaan yang menyedihkan.

Baca Juga: Sambut MotoGP 2022 di Mandalika, Lombok, Panitia Siapkan Hotel Terapung di Seputar Nusa Tenggara Barat 

Ngruwat dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula, tetapi juga menolak bencana yang diyakini akan menimpa pada diri seseorang, mentawarkan atau menetralisir kekuatan gaib  membahayakan.

Pada saat upacara ruwatan dilakukan dengan pagelaran wayang purwa  dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Dewa Kala.

Menurut pakem Murwakala jenis barang sajen itu jumlahnya tidak kurang dari 38 macam. Tidak boleh terlupakan satupun. Artinya jumlah sajen harus 38 macam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X