Aksi menendang dan membuang sesajen yang dilakukan seorang pria di daerah bencana letusan Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, mengingatkan kenangan lama.
Sekitar 45 tahun lalu (tidak tahu sekarang), orang-orang di desa yang mempunyai hajatan akan menaruh sajen (sesaji) di tempat-tempat tertentu. Misalnya, perempatan jalan, jembatan, dan bawah pohon besar.
Para petani yang akan memulai menanam dan memanen padi, biasanya juga membuat sesaji.
Baca Juga: Inter Ditahan Imbang Atalanta, Perebutan Gelar Juara Serie A Masih Sengit
Sesaji—biasanya berupa antara lain, tumpeng kecil, bubur merah, bubur putih, pisang kepok, bunga mawar, kenanga, dan kantil—diletakkan pada sebuah ancak kecil.
Ancak adalah talam yang dibuat dari anyaman bambu (ada juga yang paduan antara bambu dan batang daun pisang).
Bagi masyarakat Jawa, sesaji adalah hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, terkait pemahaman atau pandangan masyarakat tentang dunia ini. Masyarakat Hindu Bali juga membuat sesaji, sajen
Sebagai contoh. Dalam upacara ruwatan, sajen merupakan syarat yang penting. Ruwat dalam bahasa Jawa sama dengan kata luwar, berarti lepas atau terlepas. Maka, diruwat artinya dilepaskan atau dibebaskan dari hukuman atau kutukan dewa yang menimbulkan bahaya, malapetaka atau keadaan yang menyedihkan.
Ngruwat dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula, tetapi juga menolak bencana yang diyakini akan menimpa pada diri seseorang, mentawarkan atau menetralisir kekuatan gaib membahayakan.
Pada saat upacara ruwatan dilakukan dengan pagelaran wayang purwa dengan cerita khusus Murwakala, cerita riwayat kehidupan Dewa Kala.
Menurut pakem Murwakala jenis barang sajen itu jumlahnya tidak kurang dari 38 macam. Tidak boleh terlupakan satupun. Artinya jumlah sajen harus 38 macam.
Artikel Selanjutnya
Hele Yo adalah Nikmat Sagu Berbalut Keindahan Alam Papua
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Trias Kuncahyono
Artikel Terkait
Hele Yo adalah Nikmat Sagu Berbalut Keindahan Alam Papua
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
ORANG-ORANG KALAH Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi
Di Kaki Gunung Merapi, oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
DI LEMBAH BUKIT MENOREH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku