POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Sabtu, 12 Februari 2022 | 18:13 WIB
Ilustrasi Politik (istimewa)
Ilustrasi Politik (istimewa)

POLITIK WADAS
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku




TITIKTEMU.CO - Novelis dan esais kondang dari Inggris, George Orwell (1903-1950), pernah mengatakan, dalam zaman kita ini tak ada yang namanya ‘lepas dari politik.’ Semua isu adalah isu politik.

Politik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita tidak bisa lepas dari politik. Kita menerima ini. Sebab, terlalu banyak yang dipertaruhkan bila kita mengabaikannya.

Maka itu mengatakan, “Aku benci politik”, “Aku tak mau bersentuhan dengan politik”, “Aku tak mau berurusan dengan politik”, atau “Aku tak mau menjamah politik karena politik itu kotor”, adalah sebuah kebodohan.

Baca Juga: Tidak Boleh Lagi Ada Kekerasan, Gubernur Ganjar Pranowo akan Lakukan Tiga Agenda Selesaikan Masalah Wadas

Bukankah harga bahan makanan, harga bahan bakar, harga obat, harga pupuk, harga kedele, harga masker, harga rumah, dan lain-lainnya yang menyangkut kebutuhan hidup manusia bergatung pada keputusan politik.

Bukankah, politik ada dalam setiap asosiasi manusia—bahkan dalam keluarga juga—di mana ada keputusan harus dibuat, harus dilaksanakan, atau bagaimana sumber daya dialokasikan, peran didefinisikan, aturan dirumuskan, dan identitas ditegaskan.

Politik muncul setiap kali ada ketidaksepakatan, ada konflik atas hal-hal tersebut di atas.

Baca Juga: PURI GEDEH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Politik memang sangat luwes. Ia dapat diterapkan di mana saja, kapan saja, dan atas siapa saja. Maka itu muncul berbagai ragam, model, dan nama sesuai dengan kepentingannya.

Ada politik dinasti, politik kuda hitam, politik kambing hitam, politik ken arok, politik abu nawas, politik identitas, politik belah bambu, politik agama, politik kebudayaan, politik kebo edan, politik kumpul kebo, politik markonah, politik transaksional, politik hati nurani, politik rendah hati dan lain sebagainya.


Ilustrasi
Ilustrasi (istimewa)

Apakah karena itu muncul tuduhan bahwa politik itu kotor? Tuduhan itu muncul mungkin karena seperti dikatakan oleh ilmuwan politik AS, Harold Lasswell, politik selalu berkait dengan pertanyaan, “siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana?”

Baca Juga: Mengapa Terjadi Konflik di Wadas? Ini Persoalan 11 Tahun, Sejak Dicanangkan Pembangunan Bendungan Bener

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X