Baca Juga: KALA MARICA oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Jelaslah kiranya, sesajen memiliki nilai yang sangat sakral bagi pandangan masyarakat yang masih mempercayainya.
Tujuan dari pemberian sesajen ini untuk mencari berkah. Kata Suwardi Endraswara (2018), Agama Jawa menggariskan fungsi sesaji sebagai: pertama, langkah negosiasi spiritual dengan kekuatan adikodrati, agar tidak mengganggu; kedua, pemberian berkah kepada warga sekitar, agar ikut merasakan hikmah sesaji; dan ketiga, perwujudan keikhlasan diri, berkorban kepada Kang Gawe Urip, Yang Memberi Kehidupan.
Ini berarti sesaji merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Baca Juga: Lapas Semarang Pindahkan 41 Napi Bandar Narkoba ke Nusakambangan
Tentu, ada yang tidak sependapat dengan hal itu. Biasa, dalam segala hal selalu begitu.Tetapi, kearifan lokal yang disimbolkan dalam sesajen perlu dipelajari bukan disalahkan.
Sebab, sesajen adalah kearifan budaya lokal yang diturunkan oleh leluhur kita.
II
Kata Suwardi Endraswara, sesaji merupakan refleksi dari naluri keagamaan orang Jawa.
Baca Juga: Pemberangkatan Jemaah Umrah Dihentikan, Begini Penjelasan Kemenag
Manusia hidup saling berdampingan di alam semesta ini. Salah satu kewajiban dan tujuan utama manusia hidup di Bumi adalah untuk saling menghormati, saling menghargai, saling ber-welas asih dan mengasihi antar sesama makhluk hidup.
Filsafat hidup Jawa, menanamkan suatu kesadaran kosmologis yakni bahwa manusia harus menghargai, menghormati, dan memperlakukan seluruh benda hidup maupun benda-benda tidak hidup dengan cara adil, welas asih serta bijaksana.
Koentjaraningrat (dalam Muhammad Afdillah, 2010) mencatat bahwa kepercayaan Agama Jawi (Agama Jawa) asli mencakup kepercayaan terhadap ruh leluhur, lelembut, setan, denawa, memedi, widadari, dan tuyul.
Baca Juga: Ada Souvenir Miniatur Kincir Air di Obyek Wisata Plumpung Nglobo Blora
Adapun ajaran tentang kosmogoni (kang dumadi), kosmologi (bawanagung), eskatologi (akhiring zaman), dan ratu adil berasal dari ajaran Hindu-Buddha.
Artikel Terkait
Hele Yo adalah Nikmat Sagu Berbalut Keindahan Alam Papua
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
ORANG-ORANG KALAH Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
KELOR, BUNG NASRIN DAN PARAMAKARYA 2021 oleh : Lalu Gita Ariadi
Di Kaki Gunung Merapi, oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
DI LEMBAH BUKIT MENOREH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku