I
Mbah Yono. Begitu namanya. Para koleganya pun memanggilnya Mbah Yono. Usianya belum tua-tua amat: 63 tahun. Tetapi, semua orang memanggil lelaki berbadan tegap, berkulit hitam, beruban meski masih bercampur rambut hitam, dengan sorotan mata jujur penuh persaudaraan itu, Mbah Yono. Mungkin, karena dia dituakan.
Selama beberapa tahun, Mbah Yono menekuni pekerjaan sebagai sopir taksi di Kota Yogya. “Tetapi, taksi argo, dapat saingan taksi online. Persaingan makin lama makin berat. Dan, empat tahun lalu, kulo memutuskan untuk berhenti,” kata Mbah Yono sambil mengendalikan Jeep Willys yang disopirinya menyusuri jalan berbatu, naik-turun berkelok-kelok sempit di rute lava tour Merapi.
Baca Juga: Virus Covid 19 Varian Omicron Meningkat, Masjidil Haram dan Nabawi Kembali Jaga Jarak
Jeep Willys adalah jeep legendaris yang pertama kali dibuat tahun 1941 oleh AS dan sekutunya untuk dijadikan sebagai kendaraan perang pada PD II. Setelah digunakan pada PD II, Jeep Willys masih dilibatkan pada Perang Korea (1950-1953).
Dwight D. Eisenhower, Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu di Eropa dalam PD II, menulis dalam memoarnya bahwa sebagian besar perwira senior menganggap Jeep Willys sebagai salah satu dari lima peralatan yang paling penting dalam meraih kesuksesan perang di Afrika dan Eropa. Jenderal George Marshall, Kepala Staf Angkatan Darat AS selama perang, mengatakan Jeep Willys memberikan kontribusi terbesar bagi Amerika dalam perang modern.”
Baca Juga: Manchester United Mengakhiri Tahun 2021 dengan Kemenangan Atas Burnley di Liga Premier Inggris
Pekerjaan sebagai sopir Jeep Willys hijau ditekuni sejak empat tahun lalu. Mbah Yono melayani para wisatawan yang ingin berpetualang di kawasan yang tahun 2010 disapu letusan Gunung Merapi.
Para wisatawan tidak hanya melihat Gunung Merapi saja, namun juga akan diajak melihat keindahan alam sekitar dan juga bisa melihat matahari terbit di pagi hari atau matahari terbenam di sore hari.
Sepanjang perjalanan tour, Mbah Yono layaknya seorang pemandu wisata, menjelaskan tempat-tempat yang dilalui. “Kita sekarang di Dusun Petung. Dusun ini pada tahun 2010 disapu awan panas. Itu puing-puing rumah penduduk, “kata Mbah Yono.
Baca Juga: TNI AL Membuka Kesempatan untuk Menjadi Calon Bintara
Ketika kami melewati pemakaman, Mbah Yono menceritakan di tanah makam itu dimakamkan para korban erupsi Gunung Merapi. Aktivitas seismik Gunung Merapi dimulai pada akhir September 2010, dan menyebabkan letusan pada hari Selasa, 26 Oktober 2010.
Akibat letusan sedikitnya 353 orang tewas, termasuk kuncen Gunung Merapi Mbah Maridjan. Kata Mbah Yono, kebanyakan mereka yang tewas adalah orang-orang yang tidak mau dievakuasi. Mereka bersembunyi di tegalan; dan tegalan itu disapu awan panas.
Baca Juga: Timnas Indonesia Kalah dari Thailand di Leg Pertama Final Piala AFF 2020 dengan Skor 0-4
Artikel Selanjutnya
Malam Tahun Baru di Jogja, Kawasan Malioboro Tetap Dibuka, Koneksi Wifi Dinonaktifkan
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Sumber: Trias Kuncahyono
Artikel Terkait
Malam Tahun Baru di Jogja, Kawasan Malioboro Tetap Dibuka, Koneksi Wifi Dinonaktifkan
Malam Tahun Baru, Alun-alun Kota Klaten Ditutup. Tidak Boleh Ada Kerumunan di Fasum
9 Imbauan Sri Sultan Jelang Natal dan Tahun Baru: Tetap Hati-Hati dan Waspada
Kumpulan doa dan Ucapan Selamat Tahun Baru 2022, Cocok Dibagikan ke Medsos
Kumpulan Twibbon Selamat Tahun Baru 2022, Keren Banget Pokoknya!