Baca Juga: Media Asing Soroti Suara Adzan, Begini Tanggapan Kemenag
Mengapa celeng yang satu ini muncul di Purworejo? Sebenarnya tidak muncul di Purworejo, tetapi dimunculkan di Purworejo. Adalah Ketua DPP PDI yang juga Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto, yang pertama menggunakan istilah celeng bagi para kader PDIP Purworejo yang secara terbuka mendukung Ganjar Pranowo maju ke Pilpres 2024. Mereka disebut telah keluar dari barisan kader (karena mendahului keputusan pusat) dan lebih layak disebut celeng dari pada benteng.
Dari sinilah muncul istilah Barisan Celeng Berjuang, di Purworejo. Namanya perjuangan, ya bisa berhasil dan juga bisa gagal. Itu risiko perjuangan, yang harus diketahui bahkan disadari oleh siapa saja yang menyebut dirinya pejuang. Ya, seperti pepatah saja homo proponit sed Deus disponit, manusia merencanakan tetapi Tuhanlah yang menentukan.
Dalam perjuangan ada ketidakpastian. Tetapi, para pejuang harus memastikan bagaimana yang tidak pasti itu bisa menjadi pasti? Dibutuhkan usaha, niat, tekad, dan perjuangan yang keras.
Baca Juga: Pesan Kepada Dirut TVRI, Sri Sultan,”TVRI Harus Siarkan Variasi Tontontan”.
Dalam bahasa orang beriman, perlu ada keselarasan dan relasi erat antara gratia operans (rahmat yang diberikan) dan gratia cooperans (rahmat yang diusahakan). Maka ada kata-kata bijak ora et labora, berdoalah dan bekerjalah.
Barisan Celeng Berjuang itu ada di Purworejo yang dari dulu, memang, kota perjuangan. Sejarah bercerita, Purworejo di zaman Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) menjadi basis pasukan Pangeran Diponegoro. Karena itu, Belanda lalu mendirikan tangsi militer dan benteng di kota yang dulu bernama Kedung Kebo, di tepi Sungai Bogowonto.
Perang hebat tidak bisa dihindarkan, Belanda yang dibantu pasukan dari Kerajaan Surakarta yang dipimpin oleh Pangeran Kusumayuda beserta Ngabehi Resodiwiryo berhadapan dengan Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh pasukan laskar Rakyat Bagelen.
Baca Juga: Dibutuhkan 298 orang Calon Perangkat Desa di Wonogiri. Persiapkan Dirimu!
Purworejo juga terkenal dengan kambing Etawa-nya (sekarang ditambah celeng). Di sana juga ada kesenian Dolalak. Makanan khasnya adalah Clorot. Clorot terbuat dari adonan tepung beras dan gula merah yang dikukus. Rasanya manis dan kenyal. Dibungkus daun kelapa muda, janur.
Yang tak kalah menarik, tahun lalu, di Purworejo muncul “kerajaan” baru yang bernama Kerajaan Agung Sejagat (KAS), berpusat di Bayan. Raja KAS yang menyebut dirinya Totok Santoso Hadiningrat atau Sinuhun dan memiliki istri bernama Dyah Gitarja atau Kanjeng Ratu mengklaim bahwa kerajaannya sebagai penerus Kerajaan Majapahit (Kompas.com, 15/1/2020).
Baca Juga: Kopi Excelsa Banyuanyar, Kutunggu Datangmu di Lereng Lereng Merbabu
Itulah Purworejo.
Dari Purworejo muncul kisah-kisah menarik sekaligus ramai. Benar, yang dikatakan seorang sahabat. Lewat pesannya yang lumayan panjang. Sahabat itu menulis:
Bung, kita, di negeri ini, hidup dengan politik yang sangat ramai tapi sepélé. Sepélé, Bung. Sepélé. Ya memang … Tak ada hal-hal mendasar yang dipertarungkan. Yang dipersoalkan bukanlah hal-hal yang menggetarkan pikiran, apalagi hati. Dan, juga bukan perkara yang menjadi hajat hidup orang banyak. Yang saya maksudkan dengan “orang banyak” adalah masyarakat, rakyat, bukan orang banyak itu kelompoknya sendiri.
Artikel Terkait
3 Bentuk Jual Beli Jabatan Ini Bisa Dijerat Pasal Korupsi, Semua Pejabat Harus Tahu
Baru Tiga Bulan Jadi Bupati Kolaka Timur Terjaring OTT KPK, Ini Profil Andi Merya Nur
Azis Syamsuddin dalam Pusaran Kasus Suap, Ini Profilnya
KPK Tetapkan 10 Tersangka Korupsi Pengadaan dan Pengesahan Anggaran Kab Muara Enim
Bukan Jebakan, Ini Pertimbangan Polri Merekrut 57 Pegawai yang Dipecat KPK
Terkait Operasi Tangkap Tangan Bupati Musi Banyuasin, KPK Sita Uang Rp1,7 Miliar