HIKAYAT CELENG Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:54 WIB
Celeng atau Babi Hutan  (pixabay.com)
Celeng atau Babi Hutan (pixabay.com)

Dengan mudah, celeng gontheng itu menyedot semuanya. Karena itu dulu, jika sedang punya hajatan, orang suka menutup got atau peceren saluran air dan kotoran. Sebab, biasanya di sana celeng gontheng menunggu, lalu menyedot semua lewat saluran itu.

Itu bagian dari cerita Romo Sindhu dalam artikelnya Negeri Para Celeng.

Baca Juga: Luar Biasa Tekadnya, Dua Pemuda Gowes dari Gorontalo ke Makkah untuk Ibadah Haji

Akhir-akhir ini celeng banyak disebut-sebut. Celeng itu, mula-mula muncul di Purworejo, Jawa Tengah dan mulai “berkeliaran” di berbagai wilayah Jawa Tengah lainnya, seperti Solo.

Apakah celeng yang muncul belakangan ini dan menjadi trending topic di media-media sosial, media online,  sama dengan celeng yang digambar Djoko Pekik dan ditulis Romo Sindhu?

Tentu beda. Celeng dilukis Djoko Pekik dan diceritakan Romo Sindhu adalah celeng rakus: rakus kekayaan, yang menghalalkan segala cara untuk mengeruk kekayaan negara, untuk memperkaya diri, untuk korupsi.

Baca Juga: Kram!...Kenapa Bisa Kram dan Bagaimana Mengatasinya?

Celeng mereka celeng yang sungguh-sungguh dikuasai nafsu kebinatangan—karena celeng memang binatang.

Celeng pada lukisan Djoko Pekik dan artikel Romo Sindu adalah celeng yang gemuk karena kerakusannya; ditangkap rakyat, karena kerakusannya itu merusak, menggerogoti, dan bahkan menghancurkan tatanan hidup berbangsa dan bernegara.

Celeng rakus seperti itu, sekarang ini, muncul di mana-mana, dari tingkat daerah hingga tingkat pusat. Walau sudah banyak yang ditangkap, tetap saja masih bermunculan, beranak-pinak. Celeng, babi, kalau beranak bisa sampai 10 ekor bahkan lebih.

Baca Juga: Indonesia Melaju ke Final Piala Thomas 2020! Skuad Merah Putih Jumpa China di Partai Puncak

Rakus atau tamak berarti ingin memperoleh lebih banyak dari yang diperlukan; loba; tamak; serakah (KBBI). Rakus atau tamak juga diartikan sebagai cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar.

Di sini ada sikap yang selalu ingin memperoleh sesuatu yang banyak untuk diri sendiri. Orang tamak selalu mengharap pemberian orang lain, namun dia sendiri bersikap pelit atau bakhil. Ia ingin mengumpulkan harta untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan aturan.

Yang muncul sekarang ini adalah “celeng purworejo”, “celeng perjuangan” yang oleh mantan walikota Solo FX Hadi Rudyatmo disebut “banteng celeng.” Kata Rudyatmo, “Saya lebih senang jadi banteng celeng. Karena banteng celeng ini menurut saya yang tegak lurus” (Kompas.com, 14/10/2021)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X