Kematian Sanjav telah "memaksa" kakaknya, Rajiv Gandhi, menapaki jalan politik sesuai keinginan ibunya. Dan, pada akhirnya Rajiv sebagai ketua Partai Kongres (I), pecahan Partai Kongres (Kongres Nasional India) terpilih sebagai PM India, 31 Oktober1984 sampai Mei 1991. Kalau dihitung-hitung, keluarga Nehru menguasai politik India selama 38 tahun.
Di Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto (1928-1979) pernah jadi presiden (1971-1973) dan perdana menteri (1973-1977). Jalannya, ditapaki putrinya Benazir Bhutto (1988-1990) lalu (1993-1996). Benazir Bhutto menjadi perempuan pertama yang menjadi kepala pemerintahan di negara Muslim.
Baca Juga: Real Madrid Raja Eropa, Liverpool Tim Tersukses Inggris di Liga Champions
Cerita mirip-mirip terjadi di Sri Lanka. Keluarga Bandaranaike berkuasa di Sri Lanka. SWRD Bandaranaike adalah PM (1956 — 1959). Bandaranaike digantikan istrinya, Sirimavo Bandaranaike. la menjadi PM tiga kali berturut-turut (1960 — 1965, 1970 — 1977, dan 1994 — 2000).
Pada tahun 1994, putri mereka Chandrika Kumaratunga menjadi presiden, selama 11 tahun. Dari tahun 1994 hingga 2000, ibu dan anak Chandrika masing-masing menjabat sebagai PM dan presiden. Setelah keluarga Bandaranaike, di Sri Lanka muncul keluarga Mahinda Rajapaksa.
Baca Juga: Inter Melaju ke Final Liga Champions di Turki. Menunggu Pemenang Manchester City Vs Real Madrid
Di Filipina, keluarga Ferdinand Marcos, tak jauh berbeda. Demikian pula keluarga Benigno Aquino. Mungkin masih ada contoh lain.
Di negeri-negeri itu, politik telah menjadi lebih dari perusahaan keluarga daripada proses kebijakan untuk membantu dan mengusahakan kesejahteraan bagi masyarakat. Mereka mengikuti pemilu bukan untuk memperbaiki tingkat kehidupan jutaan orang, melainkan untuk menunjukkan "hak " mereka untuk memerintah, mendikte, dan memperkaya diri.
Baca Juga: Garuda Muda Indonesia Kalahkan Gajah Perang Thailand 5-2 , Emas Kembali ke Tanah Air
Padahal, sebenarnya, politik adalah `bentuk amal tertinggi." Dan, dengan itu berkomitmen untuk berjuang "demi keadilan dan perdamaian, melalui komitmen politik para politisi." Dengan kata lain, berpolitik adalah melayani kepentingan umum.
***
Ketika pada hari Jumat lalu, saya menerima pesan singkat, ada harapan bahwa mission sacre, misi suci politik itu diperbaharui atau bahkan (semoga) diperkuat dan direalisasikan.
Baca Juga: Manfaat Ketimun Bagi Kesehatan Ternyata Tinggi , Tapi Disepelekan
Pada hari itu, bertepatan dengan Hari Kartini, dan sehari sebelum Hari Lebaran, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri secara resmi mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden untuk Pemilu 2024.
Artikel Terkait
'SEMOGA CEPAT WARAS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'DARI BUNG KARNO HINGGA JOKOWI' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'PECI BUNG KARNO' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'BADUT-BADUT TAK LUCU' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
"DI KAIRO KAMI BERTEMU" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Pembersihan Gerbong Kemerdekaan Pers dari Penumpang Gelap
Perkembangan dan Pengasuhan Anak dalam Perspektif Budaya Jawa