Perkembangan dan Pengasuhan Anak dalam Perspektif Budaya Jawa

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Senin, 10 Oktober 2022 | 17:28 WIB
Pengasuhan bayi harus dimulai sejak dini, bahkan mulai dalam kandungan hingga lahir ke dunia. Ilustrasi (Pixabay)
Pengasuhan bayi harus dimulai sejak dini, bahkan mulai dalam kandungan hingga lahir ke dunia. Ilustrasi (Pixabay)

"Perkembangan dan Pengasuhan dalam Perspektif Budaya Jawa"
Penulis: Fatimah Mutia, Mahasiswa Psikologi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Fase perkembangan kehidupan manusia dalam psikologi terbagi menjadi beberapa periode dimana masing-masing periode terbentuk karena adanya proses biologis, kognitif, dan sosioemosi yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain (Santrock, 2011).

Periode pertama dimulai pada prakelahiran, masa bayi (18-24 bulan), masa kanak-kanak awal (2-5 tahun), masa kanak-kanak pertengahan dan akhir (6-11 tahun), masa remaja (10-12 tahun hingga 18-21 tahun), masa dewasa awal (20-an hingga 30-an), masa dewasa menengah (40-an hingga 50an), dan terakhir masa dewasa akhir (60an hingga kematian).

Anak usia dini merupakan anak yang ada dalam rentang usia 0 sampai dengan 6 tahun yang mana terjadi perkembangan sangat pesat sekitar 40% (Khaironi, 2018).

Baca Juga: 5 Manfaat Kurma untuk Ibu Hamil, Bisa Cegah Bayi Lahir Cacat

Masa ini dianggap sebagai masa yang penting sehingga muncul istilah usia emas atau lebih familiar dengan kata golden age. Pada masa golden age otak anak berkembang sangat pesat (Novitasari, 2018).

Mereka dapat menyerap informasi yang diterima oleh lingkungan dan menjadi peniru yang handal (Nasution, Yumarni, & Marwah, 2021). Oleh karena itu, perlu perhatihan khusus, pemberian stimulasi, dan pengasuhan yang tepat agar dapat berkembang secara optimal.

Fase perkembangan manusia juga dibahas sendiri dalam budaya jawa yang biasa diketahui dengan fase kehidupan falsafah jawa yang ada pada tembang macapat.

Baca Juga: Ngomongin Soal Hacker Bjorka, Kenapa Anak Ringgo Agus Rahman Terseret?

Tembang macapat merupakan syair atau puisi bahasa Jawa yang memiliki aturan tertentu dalam penulisannya (Rochadiana dkk, 2022).

Tembang macapat berisi gambaran penjelanan fase kehidupan manusia dari mulai dalam kandungan sampai dengan kematian (Anto dan Anita, 2019).

Tembang macapat terdiri dari beberapa jenis tembang yaitu maskumambang, mijil, sinom, kinanti, asmarandana, gambuh, dandanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pocung (Zahra, 2018).

Baca Juga: Serba Serbi Hari Kesehatan Mental Sedunia 2022 dan Kaitannya dengan COVID-19

Dalam hal ini untuk usia golden age, tembang yang akan dibahas yaitu maskumambang, mijil, dan sinom.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X