"BADUT-BADUT TAK LUCU"
Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Di emperan sebuah rumah makan cepat saji, saya temui Ilyas Ramadhan (21), suatu siang ketika langit begitu biru dan matahari bisa begitu leluasa memanasi bumi, memanasi siapa saja. Matahari tak pernah pilih-pilih–kaya-miskin, laki-perempuan, tua-muda, pekerja kantoran-pekerja jalanan, bos-anak buah, majikan-upahan–semua sama: diberi sinarnya.
Ramadhan, tengah bersiap-siap untuk bekerja. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya (juga untuk anaknya semata wayang yang masih balita) dengan menjadi badut berkostum mickey mouse; menari-nari ala kadarnya, di perempatan jalan, saban hari dari pagi hingga petang.
Baca Juga: Arya Saloka, Dian Sastro dan Putri Marino akan Adu Akting di Serial “Gadis Kretek”
Di tengah terik matahari, di tengah kepungan asap motor dan mobil, terkaman debu jalanan, Ramadhan mencari rezeki, mengharapkan kebaikan hati orang lain, para pengemudi mobil dan pengendara motor. Kalau pas rezeki, sehari Ramadhan bisa membawa pulang Rp 100.000.
Dulu, sebelum memiliki kostum sendiri, penghasilan sebanyak itu masih harus dipotong Rp 30.000 untuk bayar sewa kostum. Tapi, sekarang sudah punya kostum sendiri. “Ini saya beli tiga-ratus limapuluh ribu rupiah,” kata Ramadhan yang hanya mengenyam pendidikan sampai SMP.
Sebelum jadi badut, Ramadhan menjadi tukang parkir. Tetapi, pandemi Covid-19, telah membuatnya kehilangan pekerjaaan itu. Sementara hidup terus berjalan, meski semua hal di sekitarnya berubah. Banyak hal berubah. Banyak hal terjadi. Hidup terus berlalu. Dan, Ramadhan menjalaninya dengan penuh kesungguhan.
***
Anak muda beranak satu itu, bukan siapa-siapa: rakyat biasa. Bung Karno menyebutnya, “marhaen,” yang sekarang disebut sebagai wong cilik, rakyat kecil, rakyat jelata.
Wong cilik adalah sebuah istilah yang digunakan untuk membedakan status sosial dalam masyarakat Jawa. Dalam penggunaannya wong cilik selalu dikontraskan dengan istilah priyayi.
Mereka yang dimasukkan ke dalam kelompok wong cilik adalah buruh, petani gurem, buruh tani, para pekerja kasar semacam tukang batu, tukang parkir, tukang kebon, tukang becak, juga pedagang kecil. Pendek kata, mereka itu adalah golongan masyarakat paling bawah, yang istilahnya powerless. Artinya, mereka tidak mempunyai kuasa atau kaum yang lemah dan tak berdaya sehinga mudah untuk dieksploitasi, dimanfaatkan, dan dimiskinkan.
Artikel Terkait
Ini Perjalanan Politik Dinasti Bupati Probolinggo Selama 18 Tahun
Prodi Doktor Ilmu Sosial Fisip Undip Tawarkan 2 Kajian Studi: Politik dan Administrasi Bisnis
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'KATA ORANG POLITIK ITU BEGINI...' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Tayang Bulan Juli, Ini 5 Rekomendasi Film Indonesia yang Cocok Ditonton Saat Akhir Pekan
Jangan Lewatkan! God Bless Konser di Solo, Ini Jadwal dan Cara Beli Tiket
Jogja Seru! ArtJog 2022 Resmi dibuka, Ini Harga Tiket dan Jadwalnya
Prosesi Pengikatan Cinta Via Valen Chevra Yolandi Disiarkan INDOSIAR Tiga Hari Beruntun. Ini Jadwal Detilnya