'BADUT-BADUT TAK LUCU' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Kamis, 14 Juli 2022 | 17:41 WIB
Ilustrasi (Istimewa)
Ilustrasi (Istimewa)

"BADUT-BADUT TAK LUCU"

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Di emperan sebuah rumah makan cepat saji, saya temui Ilyas Ramadhan (21), suatu siang ketika langit begitu biru dan matahari bisa begitu leluasa memanasi bumi, memanasi siapa saja. Matahari tak pernah pilih-pilih–kaya-miskin, laki-perempuan, tua-muda, pekerja kantoran-pekerja jalanan, bos-anak buah, majikan-upahan–semua sama: diberi sinarnya.

Ramadhan, tengah bersiap-siap untuk bekerja. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya (juga untuk anaknya semata wayang yang masih balita) dengan menjadi badut berkostum mickey mouse; menari-nari ala kadarnya, di perempatan jalan, saban hari dari pagi hingga petang.

Baca Juga: Arya Saloka, Dian Sastro dan Putri Marino akan Adu Akting di Serial “Gadis Kretek”

Di tengah terik matahari, di tengah kepungan asap motor dan mobil, terkaman debu jalanan, Ramadhan mencari rezeki, mengharapkan kebaikan hati orang lain, para pengemudi mobil dan pengendara motor. Kalau pas rezeki, sehari Ramadhan bisa membawa pulang Rp 100.000.

Dulu, sebelum memiliki kostum sendiri, penghasilan sebanyak itu masih harus dipotong Rp 30.000 untuk bayar sewa kostum. Tapi, sekarang sudah punya kostum sendiri. “Ini saya beli tiga-ratus limapuluh ribu rupiah,” kata Ramadhan yang hanya mengenyam pendidikan sampai SMP.

Sebelum jadi badut, Ramadhan menjadi tukang parkir. Tetapi, pandemi Covid-19, telah membuatnya kehilangan pekerjaaan itu. Sementara hidup terus berjalan, meski semua hal di sekitarnya berubah. Banyak hal berubah. Banyak hal terjadi. Hidup terus berlalu. Dan, Ramadhan menjalaninya dengan penuh kesungguhan.

Baca Juga: Hari Ini Arya Saloka Ultah. Hengkang dari Ikatan Cinta, di Gadis Kretek Dapat Peran Menantang sebagai Lebas

***

 

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

Anak muda beranak satu itu, bukan siapa-siapa: rakyat biasa. Bung Karno menyebutnya, “marhaen,” yang sekarang disebut sebagai wong cilik, rakyat kecil, rakyat jelata.

Wong cilik adalah sebuah istilah yang digunakan untuk membedakan status sosial dalam masyarakat Jawa. Dalam penggunaannya wong cilik selalu dikontraskan dengan istilah priyayi.

Mereka yang dimasukkan ke dalam kelompok wong cilik adalah buruh, petani gurem, buruh tani, para pekerja kasar semacam tukang batu, tukang parkir, tukang kebon, tukang becak, juga pedagang kecil. Pendek kata, mereka itu adalah golongan masyarakat paling bawah, yang istilahnya powerless. Artinya, mereka tidak mempunyai kuasa atau kaum yang lemah dan tak berdaya sehinga mudah untuk dieksploitasi, dimanfaatkan, dan dimiskinkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X