Jadi, orang-orangan sawah adalah medium para petani untuk menjaga tanaman budidayanya dari agresi hama pertanian khususnya burung-burung seperti pipit, emprit. Orang-orangan itu diikat dengan tali panjang sampai ke gubug tempat petani menunggui sawahnya.
Dari gubug itulah petani menggerak-nggerakkan orang-orangan dengan menarik-narik talinya, sambil berteriak-teriak mengusir laskar burung-burung yang menyerbu padinya. Selain berteriak-teriak, mereka juga membunyikan geprak—bambu yang dibelah.
Baca Juga: Ini Dia Cara Menurunkan Tekanan Darah Tanpa Obat
Baca Juga: Lakukan Prinsip Pola Makan Ini Untuk Menjaga Kesehatan Jantung Anda
Orang-orangan sawah itu ada hampir di seluruh peradaban agraris di lingkungan kehidupan. Hanya bentuknya berbeda-beda sesuai dengan kultur kebudayaan masing-masing. Nama-nama sebutan pun berbeda-beda, sesuai bahasa setempat, meskipun fungsinya sama.
Misalnya, ada yang menyebut memedi manuk (Jawa), beubeugig (Sunda), kakashi (Jepang), nuffara (Malta), epouvantail (Prancis), spaventapasseri (Italia), espantalho (Portugal), espanta0jaros (Spanyol), scarecrow (Inggris), Ting Mong (Khmer), dan lain-lain masih banyak lagi.***
Baca Juga: Gimana Mengadu Kuliner Dengan Fesyen, Hasilnya WOW
Sekarang ini, padi belum menguning. Maka, panen raya pun belum tiba. Malah, ibarat kata, saat ini musim tanam padi baru saja mulai. Itu berarti, orang-orangan sawah, memedi sawah belum perlu dipasang. Belum ada pasukan burung emprit yang harus ditakut-takuti, diteror.
Tetapi, anehnya para "tengkulak" padi sudah mulai banyak yang berkeliling di daerah-daerah persawahan. Meski tanaman masih hijau, masih membutuhkan pupuk, masih perlu disiangi, dan butuh banyak air.
Baca Juga: Latihan Olah Raga Yang Pas Setelah Stroke
Mereka berkeliling dari desa ke desa, sambil menebar janji, nanti akan membeli panenan dengan harga tinggi. Mereka, para "tengkulak" itu tahu bahwa masih banyak "petani" yang tergantung pada mereka, untuk memenuhi kebutuhan saprodi. Dalam posisi seperti itu, para "tengkulak" dapat memainkan harga seenaknya sendiri.
Untungnya, ada bahkan banyak "petani" yang pintar, yang tidak mudah jatuh dalam bujuk rayu dan iming-iming para "tengkulak." Mereka tidak tergoda tawaran para "tengkulak" yang mau ngijon. Mereka bersabar, menggarap sawahnya, hingga padi benar-benar menguning baru dipanen dan dijual dengan harga yang pantas.
Baca Juga: Booster Vaksin Kedua Digenjot Lagi, Kenapa ?
Artikel Terkait
'SEMOGA CEPAT WARAS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'DARI BUNG KARNO HINGGA JOKOWI' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'PECI BUNG KARNO' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'BADUT-BADUT TAK LUCU' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'CERITA LUHUT DI KEDAI KOPI', Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Hasil Survei Pemilu 2024 PRMN-Promedia: Mayoritas Responden Setuju Usia Ideal Presiden Rentang 30-49 Tahun
Pembersihan Gerbong Kemerdekaan Pers dari Penumpang Gelap
Mengejutkan! Hari Keempat Tahun 2023, Kemkominfo Sudah Tangani 1321 Hoaks Terkait Politik
Survei Indikator Politik: Jika Gandeng Erick Thohir, Prabowo atau Ganjar Akan Unggul