Melihat dinamika sejak 2004, konflik suksesi di Keraton Solo bukan persoalan sederhana. Hal ini berkaitan dengan: perebutan legitimasi adat, absennya garis permaisuri yang jelas.
Kemudian polarisasi keluarga besar, peran abdi dalem dan lembaga adat, dan kepentingan politik internal.
Wafatnya PB XIII justru membuka babak baru yang kembali menempatkan keraton dalam posisi genting. Hingga kini, belum ada tanda-tanda penyelesaian atas perselisihan yang telah berlangsung selama hampir dua dekade.
Suksesi Keraton Surakarta kembali menjadi cermin betapa rumitnya menjaga tradisi kerajaan di tengah dinamika modern dan perpecahan internal yang belum kunjung usai.***
Artikel Terkait
Sejarah Keraton Surakarta, Paku Buwana III: Raja yang Berkuasa di Bawah Bayang-bayang Belanda
Raja Baru Keraton Surakarta: Gusti Purbaya Dinobatkan sebagai Paku Buwono XIV 15 November 2025
Suksesi Keraton Surakarta Memanas, Tedjowulan: Tahan Diri dan Hormati Pemerintah!
Putra Sulung PB XIII KGPH Mangkubumi: Jangan Buru-buru Suksesi, Ini Masih Masa Berkabung
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro