Menanti Penobatan Raja Solo yang Baru: Apakah Suksesi Bakal Berlangsung Tanpa Konflik?

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Kamis, 6 November 2025 | 14:15 WIB
Menanti Penobatan Raja Solo yang Baru: Apakah Suksesi Bakal Berlangsung Tanpa Konflik? (ANTARAVIDEO)
Menanti Penobatan Raja Solo yang Baru: Apakah Suksesi Bakal Berlangsung Tanpa Konflik? (ANTARAVIDEO)

TITIKTEMU.CO - Setelah Paku buwana XIII wafat, Keraton Kasunanan Surakarta kini memasuki masa transisi pergantian kekuasaan.

Putra mahkota KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Purboyo telah menyatakan ikrar untuk naik tahta sebagai Paku Buwana XIV.

Namun, prosesi adat belum dilaksanakan. Bahkan, status putra mahkota berpotensi menjadi perdebatan, karena ada pihak yang tidak setuju. Lantas, kapan penobatan resmi akan digelar?

Baca Juga: Kisah Kelam Tumenggung Endranata, Pengkhianat Mataram yang Jasadnya Dikubur Terpisah di Imogiri

Penobatan Putra Mahkota

Usai jJenazah sang raja dimakamkan di Astana Pajimatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta,  pada Rabu, 5 November 2025, satu tahapan yang masih harus dilakukan.

Ya, kini publik menantikan babak baru dalam perjalanan sejarah Keraton Surakarta: penobatan raja baru yang akan bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana XIV.

Sebelum wafat, PB XIII memang telah menyiapkan penerusnya dengan menetapkan putra bungsunya, KGPAA Hamangkunegoro, sebagai putra mahkota pada 27 Februari 2022.

Baca Juga: Prosesi Pemakaman Paku Buwono XIII di Imogiri, Menapaki 500 Anak Tangga ke Puncak Makam Raja-Raja

Ikrar Naik Tahta Menjadi PB XIV

Menjelang pemakaman ayahandanya, Hamangkunegoro atau Gutsti Purboyo mengucapkan ikrar kesetiaan dan kesanggupan untuk menjadi raja baru Keraton Solo.

Dalam suasana haru, dia berdiri di hadapan jenazah Pakubuwana XIII dan menyatakan siap menyandang gelar Susuhunan Pakubuwana XIV.

Namun, menurut tradisi keraton, ikrar tersebut belum otomatis menjadikan Hamangkunegoro sebagai raja sah. Dia masih harus menjalani prosesi adat penobatan (pisowanan agung).

Dalam penobatan itu nantinya ada beberapa ritual sacral, salah staunya adalah tarian Bedhaya Ketawang yang merupakan simbol legitimasi dan spiritualitas raja baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X