Pada fase perkembangan bayi, berat otak bayi 25% dari berat otak orang dewasa. Dalam hal ini lingkungan memberikan pengaruh pada perkembangan otak.
Pola dkk (dalam Santrock) menjelaskan bahwa anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang kekurangan akan mengalami aktivitas otak yang rendah. Seperti teori asah yang menjelaskan kebutuhan stimulasi, pada fase ini sudah dapat diberikan stimulasi untuk meningkatkan aktivitas otak sehingga dapat berkembang secara optimal.
Dalam hal ini juga kebutuhan nutrisi (asuh) bayi juga harus tercukupi karena itu akan sangat berpengaruh pada perkembangan selanjutnya. Pada fase ini, perkembangan kognitif anak berada pada tahap sensorimotor, yang mana anak akan membangun pemahaman dunia luar dengan mengoordinasikan pengalaman sensoris melalui aktivitasnya (Santrock, 2011).
Perkembangan sosioemosi dan psikososial bayi ini sepaham dengan filosofi mijil bahwa pada fase ini anak tidak berdaya dan membutuhkan orang tuanya. Pada perkembangan ini menurut Erikson, bayi berada dalam tahap perkembangan trust vs mistrust sehingga kebergantungan dengan orang tua itulah membentuk kepercayaan bayi yang menjadi landasan bagi ekspektasinya seumur hidup.
Pada masa ini juga kelekatan antara orang tua dan anak mulai terjalin. Pada masa ini juga rasa keingintahuan anak sedang tinggi, maka orang tua harus memberikan dukungan dan membiarkan anak-anak mencoba dan memenuhi rasa keingintahuan mereka. Karena hal ini juga sesuai dengan tahap perkembangan inisiatif versus ragu-ragu, yang mana apabila orang tua membatasi maka anak akan tumbuh menjadi anak yang ragu-ragu.
Pada masa perkembangan anak-anak awal, perkembangan otak anak-anak sudah tidak lagi secepat ketika masih bayi (Santrock, 2011). Namun pada masa ini, area lobus frontal yang melibatkan perencanaan, pengorganisasian, dan atensi terhadap tugas berkembang paling cepat diantara area otak yang lain. Pada masa ini, permasalahan malnutrisi seringkali dijumpai, sehingga kebutuhan nutrisi dan aktivitas olahraga juga harus diperhatikan di usia kanak-kanak (asuh).
Perkembangan kognitif kanak-kanak awal berada pada tahap praoperasional, yang mana anak-anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata, bayangan, dan juga gambar. Untuk meningkatkan perkembangan kognitif (asah), orang tua dapat memberikan stimulasi dengan bermain dengan anak menggunakan alat bantu dan mengajak anak berbicara sekaligus meningkatkan bahasa anak.
Seperti yang dijelaskan pada tembang sinom, masa kanak-kanak awal diisi dengan semangat dan harapan anak-anak, karena menutut Eriskon saat itu mereka sedang pada tahap perkembangan prakarsa versus rasa bersalah.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, sebenarnya budaya jawa sudah mengupas secara lengkap mengenai perkembangan dan pengasuhan yang sejalan dengan ilmu psikologi, namun teori-teori tersebut seringkali terabaikan. Padahal apabila tembang macapat dan konsep among dapat dimaknai dan diaplikasikan, banyak nilai-nilai pengasuhan yang dapat diperoleh dan diterapkan sehingga perkembangan anak pada masa golden age ini dapat berjalan secara optimal. (Fatimah Mutia, Mahasiswa Psikologi, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta)
Artikel Terkait
Cespleng! Resep Herbal Atasi Tekanan darah Tinggi Menurut dr Zaidul Akbar
Cacar Monyet Masuk Indonesia, Begini Cara Penularan dan Upaya Pencegahannya
Penderita Diabetes Pantang Komsumsi Buah Pepaya. Mitos kah?
Tiga Ramuan Herbal Untuk Turunkan Lemak Darah. Salah Satunya Banyak Ditemukan di Solo dan Jogja
Waspadai Risiko Konsumsi Gula Berlebih: Gula Darah Tinggi, Diabetes Sampai Obesitas!
Wahai Perokok, Pahami Ya ini Perbedaan TAR dan Nikotin!
Ini yang Terjadi Bila Terpapar Gas Air Mata, Cek Juga Cara Meredakan Efeknya!
8 Manfaat Buah Naga untuk Kesehatan yang sayang dilewatkan. Salah satunya, mengurangi resiko jantung
Konsumsi Protein Biar Kulitmu Glowing. Jangan Sembarangan Makan. Begini Caranya...
10 Kebiasaan Sehat Untuk Menurunkan Berat Badan Yang Harus Kamu Lakukan