'NGOBROL DENGAN KOMARUDDIN HIDAYAT' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:17 WIB
Gus Dur soal keberagaman. Ilustrasi (Istimewa)
Gus Dur soal keberagaman. Ilustrasi (Istimewa)

Baca Juga: Ada lho Tipe Kepribadian Advokat. Ini Detilnya dan Profesi yang Cocok untuk Mereka

Bagi Cak Nur, tidak ada pertentangan antara keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Tiga hal itu dikembangkan secara simultan, dengan rajutan yang akan menghasilkan masa depan Indonesia yang lebih baik, lebih demokratis, lebih adil, dan lebih terbuka.

Ketika kami bicara toleransi, nama Gus Dur segera muncul. Bapak Toleransi, Pluralisme, Demokrasi, dan Perdamaian ini memiliki pandangan yang khas tentang toleransi.

Gus Dur meletakkan toleransi dalam bertindak dan berpikir. Kata Gus Dur, sikap toleransi tidak tergantung, tidak berkaitan pada tingkat pendidikan maupun kekayaan. Sebab, toleransi adalah masalah hati dan perilaku.

Baca Juga: Usai Diperiksa, Roy Suryo Gunakan Penyangga Leher. Tidak Ditahan, Ini Penjelasan Polda Meto Jaya

Toleransi bukan soal epistimologi, karena itu tidak butuh difinisi. Tetapi, aksiologi dari konsep-konsep yang bersifat normatif. Maka, Gus Dur terus dan terus memraktikannya. Persahabatan sejatinya dengan Romo Mangun dan Ibu Gedong Bagus Oka, misalnya, salah satu contohnya kecilnya.

Yang sangat menarik adalah soal kebudayaan Tionghoa. Gus Dur mengakui kebudayaan Tionghoa sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Maka, tak ada lagi dikotomi di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia mengenai pilihan antara mengambil pendekatan asimilasi atau integrasi seperti pada era sebelumnya.

Berbagai aksara China, yang sebelumnya ditabukan, dilarang dituliskan, digunakan, dibebaskan. Pertunjukan barongsai yang menarik, indah itu dan dulu dilarang, oleh Gus Dur diperbolehkan dipentaskan. Maka, kelompok kesenian ini pun tumbuh bak jamur di musim hujan.

Baca Juga: Ini yang Ditunggu Publik, Komnas HAM Agendakan Pemanggilan Istri Ferdy Sambo

Tokoh lain yang kami bicarakan adalah Buya Syafii Maarif. Kata Komaruddin, Buya Syafii adalah sosok pengingat, seorang muazin yang sederhana. Seorang pengingat yang berseru mengingatkan dan mengajak penguasa untuk peduli akan situasi dan kondisi bangsa dan global.

Buya adalah sosok yang selalu memerhatikan kondisi sosial bangsa dan dunia. Ia selalu berpikir keras akan bangsa serta tak segan untuk mengingatkan dan mengajak para penguasa untuk terus memperbaiki permasalahan bangsa. Sikap seperti itu, dipertahankan sampai di titik akhir hidupnya dengan sepenuh hati dan pikiran.

Kata Komaruddin, Buya seorang muslim yang inklusif, plural, dan bermoral. Salah satu pendapat Buya adalah sikap fundamental tak akan mampu mempertahankan bangsa Indonesia seutuhnya dalam mengayomi setiap elemen suku, etnis, dan agama. Maka, Buya selalu mengatakan, sing waras aja ngalah menghadapi ketidak-warasan dalam sikap, omongan, dan tindakan.

Baca Juga: Apakah Hidup Kamu Mulai Terasa Tak Terkendali? Coba Cara Ini untuk Mengatasinya

Kata Komaruddin, dengan menjadi seorang muslim yang inklusif dibarengi dengan intelektual, maka tak heran jika pemikiran Buya Syafii melintasi batas teritorial. Hal itu menjadikan Buya sebagai sosok intelektual muslim yang melintasi batas agama dan teritorial.

Sikap pluralnya bahkan diserukan dengan lantang dengan menyebut bahwa setiap manusia, baik itu muslim, nonmuslim, bahkan atheis sekalipun, diberikan kebebasan untuk hidup di muka bumi ini oleh Tuhan. Asalkan, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan sikap menghormati akan rambu-rambu suatu agama dan budaya tertentu di suatu tempat yang ditinggali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X