'KEMARIN, SAHABAT SAYA TELEPON' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Senin, 25 Juli 2022 | 05:30 WIB
Peta Indonesia (Istimewa)
Peta Indonesia (Istimewa)

'KEMARIN, SAHABAT SAYA TELEPON'

Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Kemarin siang, tiba-tiba sahabat lama saya Sukidi–nama lengkapnya Sukidi Mulyadi–menelpon. Saya agak kaget, kok tumben-tumbennya menelepon. Sebab, biasanya kami hanya berkomunikasi lewat WhatsApp. Dengan itupun kami bisa ngobrol seru, banyak hal.

Saya kagum padanya. Sukidi itu “cah ndeso.” Dia dari Tanon, salah satu kecamatan di Sragen, Jawa Tengah. Tanon kira-kira 14 kilometer sebelah barat Sragen.

Tetapi walaupun “cah ndeso”, Sukidi adalah doktor lulusan Universitas Harvard (2019), di Cambridge, Massachusetts, AS, setelah berhasil mempertahankan desertasinya The Gradual Qur’an: Views of Early Muslim Commentators.

Baca Juga: Polri Tepis Berita Bharada E Telah Jadi Tersangka Kasus Penembakan Brigadir J

Maka itu, saya selalu kagum padanya, cendikiawan muda Muhammadiyah ini, seperti kekaguman saya pada Zuhairi Misrawi (sekarang Dubes RI di Tunisia) cendikiawan muda NU, atau Fuad Fanani dari Muhammadiyah, dan banyak yang lain seperti Sukardi Rinakit, Agus Sudibyo, Donny Gahral, Donal Fariz, Febri Diansyah, dan Sahat K Panggabean, sekadar menyebut nama.

Mereka ini sangat peduli pada ke-Indonesiaan, pada ke-Bhinnekaan Tunggal Ika, pada kemajemukan bangsa, pada toleransi, pada kemoderatan beragama, pada budaya bangsa yang adiluhung. Pendek kata, mereka peduli pada NKRI yang ber-Pancasila, ber-UUD 1945, yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Istilah kerennya, “NKRI Harga Mati.”

Kepedulian, kecintaan mereka terhadap semua itu menjadi sangat berarti, besar maknanya di tengah terpaan-terpaan angin sakal yang berusaha mengikis pondasi negeri saat ini. Apalagi, ketika ada yang bermimpi hendak mengganti pondasi negeri ini dengan pondasi yang lain; yang tidak menghormati kebhinnekaan, kemajemukan, yang menyingkirkan toleransi, yang memilih kebencian dari pada cinta.

Baca Juga: Ada Motif Asmara Dibalik Kasus Penembakan Istri TNI di Semarang

Maka, pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan besar yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan berani untuk terus mengawal perjalanan republik ini menjadi penting artinya.

***

Kemarin waktu telpon, Sukidi mengungkapkan rasa gundah-gulana hatinya terhadap kondisi negeri ini. Terutama berkait dengan persatuan dan kesatuan bangsa, dengan kemajemukan yang dia sebut sedang dipertaruhkan; yang pelan-pelan digerogoti

Persatuan dan kesatuan, kamajemukan dan toleransi, keindonesiaan dan kebhinnekaan selalu menjadi perhatian Sukidi sejak lama. Semua itu tercermin dalam tulisan-tulisannya selama ini di berbagai media. Misalnya di Kompas, Kamis, 21 April 2022. Waktu itu, Sukidi menulis begini:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: triaskredensialnews.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X