BULAN DI ATAS OMAH PETROEK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Senin, 23 Mei 2022 | 08:05 WIB
Romo Sindhunata di ulang tahunnya yang ke-70 (Istimewa)
Romo Sindhunata di ulang tahunnya yang ke-70 (Istimewa)

Dengan kata lain, bisa dikatakan, tujuan persahabatan adalah tanggung jawab etis terhadap kehadiran yang lain.

Mau menerima yang lain, tanpa pandang bulu dengan tulus ikhlas, dengan tangan terbuka lebar-lebar. Bukan sebaliknya, menafikan yang lain, yang berbeda dianggap musuh.

Baca Juga: Berdiri di Kaki Gunung Slamet di Ketinggian 1.800 Meter, Masjid Ini Jadi Masjid Tertinggi di Kabupaten Tegal

Itulah sebabnya, persahabatan merupakan hal yang tidak mudah untuk diwujudkan. Maka kata pepatah, mencari seorang sahabat bagaikan mencari permata di sebuah lumbung jerami yang besar.

Yang terjadi, seringkali persahabatan yang dibangun tidak dilandasi oleh ketulusan tetapi sarat dengan kepentingan diri sendiri.

Sebenarnya itu bukanlah persahabatan, apalagi persahabatan sejati. Melainkan perkawanan yang didasarkan atas kepentingan; semacam persahabatan politik.

Baca Juga: Banyak yang Nunggak Bayar PBB, Pemkab Brebes Minta Bantuan Kejaksaan

Dalam politik, seperti kata Lord Palmerston, perdana menteri Inggris pada abad ke-19, tidak ada kawan dan lawan yang abadi kecuali kepentingan. Itulah watak politik. Itulah tabiat politik. Maka perkawanan atau kalau disebut persahabatan pun, akan seperti itu.

Politik memang penuh dengan unsur kepentingan di dalamnya. Dalam politik, mana yang menguntungkan mana yang merugikan, akan selalu dipertimbangkan.

Mengapa partai-partai politik berkoalisi seperti sekarang ini untuk menghadapi Pilpres 2024? Karena mereka memiliki kepentingan yang sama.

Baca Juga: Tottenham Hotspur Lolos ke Liga Champions, Son Heung Min Meraih Sepatu Emas Liga Premier Inggris

Mengapa para ketua parpol bersafari untuk bertemu? Untuk mencocokkan kepentingan mereka. Sekarang, hari-hari ini, banyak politisi yang bersuara (lantang lagi) mengomentari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikomentari, sekadar untuk mencocokkan, menyenadakan suara mereka dengan suara kelompok tertentu yang menjadi sasarannya.

Tidak peduli suaranya sumbang atau tidak, bermutu atau tidak, terdengar bernalar atau tidak. Kepentingannya apa? Cari dukungan, cari simpati, cari massa, kan ini jelang pemilu.

Apakah itu akan abadi? Ya, tidak! Mereka kan politisi, jadi ya berpolitik. Dan, dalam berpolitik hukum besi politiklah yang berlaku seperti kata Palmerston: tidak ada yang abadi, kecuali kepentingan. Kepentingan adalah hal yang selalu dan akan selalu ada baik dalam kawan maupun lawan.

Baca Juga: POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X