Dengan kata lain, bisa dikatakan, tujuan persahabatan adalah tanggung jawab etis terhadap kehadiran yang lain.
Mau menerima yang lain, tanpa pandang bulu dengan tulus ikhlas, dengan tangan terbuka lebar-lebar. Bukan sebaliknya, menafikan yang lain, yang berbeda dianggap musuh.
Itulah sebabnya, persahabatan merupakan hal yang tidak mudah untuk diwujudkan. Maka kata pepatah, mencari seorang sahabat bagaikan mencari permata di sebuah lumbung jerami yang besar.
Yang terjadi, seringkali persahabatan yang dibangun tidak dilandasi oleh ketulusan tetapi sarat dengan kepentingan diri sendiri.
Sebenarnya itu bukanlah persahabatan, apalagi persahabatan sejati. Melainkan perkawanan yang didasarkan atas kepentingan; semacam persahabatan politik.
Baca Juga: Banyak yang Nunggak Bayar PBB, Pemkab Brebes Minta Bantuan Kejaksaan
Dalam politik, seperti kata Lord Palmerston, perdana menteri Inggris pada abad ke-19, tidak ada kawan dan lawan yang abadi kecuali kepentingan. Itulah watak politik. Itulah tabiat politik. Maka perkawanan atau kalau disebut persahabatan pun, akan seperti itu.
Politik memang penuh dengan unsur kepentingan di dalamnya. Dalam politik, mana yang menguntungkan mana yang merugikan, akan selalu dipertimbangkan.
Mengapa partai-partai politik berkoalisi seperti sekarang ini untuk menghadapi Pilpres 2024? Karena mereka memiliki kepentingan yang sama.
Baca Juga: Tottenham Hotspur Lolos ke Liga Champions, Son Heung Min Meraih Sepatu Emas Liga Premier Inggris
Mengapa para ketua parpol bersafari untuk bertemu? Untuk mencocokkan kepentingan mereka. Sekarang, hari-hari ini, banyak politisi yang bersuara (lantang lagi) mengomentari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikomentari, sekadar untuk mencocokkan, menyenadakan suara mereka dengan suara kelompok tertentu yang menjadi sasarannya.
Tidak peduli suaranya sumbang atau tidak, bermutu atau tidak, terdengar bernalar atau tidak. Kepentingannya apa? Cari dukungan, cari simpati, cari massa, kan ini jelang pemilu.
Apakah itu akan abadi? Ya, tidak! Mereka kan politisi, jadi ya berpolitik. Dan, dalam berpolitik hukum besi politiklah yang berlaku seperti kata Palmerston: tidak ada yang abadi, kecuali kepentingan. Kepentingan adalah hal yang selalu dan akan selalu ada baik dalam kawan maupun lawan.
Baca Juga: POLITIK MINYAK GORENG Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Artikel Terkait
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku
POLITIK WADAS OLeh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
TERAWAN DAN CUCI OTAK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
LELAKI TUA DAN SANDAL KARET Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku